20 September 2014

Penyakit Tanaman Pinang

Budidaya Pinang  - Perkebunan pinang memiliki prospek ekonomi yang luar biasa. Beberapa wilayah di Indonesia, tanaman pinang memiliki peranan penting dalam meningkatkan kesejahteraan para petani.
Contoh penyakit buah pinang/Foto: goldenagro.com
Di Aceh, banyak petani masih menggunakan cara tradisional mulai dari pembibitan, perawatan, sampai pada penanganan paska panen. Hanya beberapa petani saja yang sudah menerapkan budidaya pinang secara intensif dan hasil panen luar biasa. Bisa mencapai 10 kali lebih banyak dengan cara tradisional.

Kelebihan kebun pinang yang di tanam secara intensif, dalam satu pohon pinang mampu menghasilkan 20 kg setiap bulan dan produksi biji kering bisa mencapai 400 kg setiap bulan dalam per hektar.

Seperti tanaman lainnya, budidaya pinang juga mengalami kendala-kendala, diantaranya yaitu serangan hama dan penyakit. Pinang yang terserang penyakit dapat menyebabkan produksi menurun. 

Dalam waktu jangka panjang akan berdampak negatif pada keberlanjutan tanaman pinang. 

Karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit pinang. Cara yang paling umum dilakukan oleh petani untuk mengendalikan penyakit pinang adalah dengan menggunakan bahan kimia atau pertisida. Akan tetapi, tidak selamanya bahan kimia dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit. 


Dalam kurun jangka panjang, jika penggunaan bahan kimia yang berlebihan pada suatu wilayah akan menimbulkan dampak negatif yaitu terbunuhnya mikroba. Dengan hilangnya keseimbangan ekosistem alam, akan melahirkan penyakit baru yang lebih ganas.


Dampak lain penggunaan bahan kimia pada tanaman adalah menambahnya biaya produksi karena semakin mahalnya harga bahan kimia, dapat menyebabkan polusi lingkungan terutama air tanah dan tanah, beresiko pada kesehatan petani dan keluarganya serta kesehatan konsumen. Namun, sayangnya kondisi ini belum mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak, terutama oleh tenaga penyuluh pertanian dan perkebunan. 


Berikut penyakit-penyakit yang sering menyerang tanaman pinang:


1. Bercak daun menguning (yellow leaf spot)


Penyebabnya penyakit bercak daun adalah cendawan Curvularia sp. Gejala pada lamina daun, terlihat bercak-bercak kuning 3-10 mm diameter. Infeksi lanjut dapat menyebabkan kematian bibit. Penyemprotan dengan Dithane dapat mengurangi serangan.


2. Leaf blight.


Penyebabnya adalah Pestalotia palmarum Cooke. Gejala penyakit berupa bercak-bercak coklat kekuningan pada helaian daun. Pemupukan N dan K2O ataupun dengan pemberian naungan dapat menekan penyakit.


3. Karat merah daun (red rust)


Penyebabnya yaitu Cephaleuros sp. Cendawan ini menginfeksi batang dan daun. Sehingga terlihat bercak tak beraturan pada bagian batang dan daun yang berwarna kekuningan. Untuk menghindari perlu dibuat naungan secukupnya.


4. Busuk akar/pangkal batang (root/collar rot)


Penyebabnya adalah cendawan Fusarium sp. dan Rhizoctoria sp. Penyakit ini biasanya terlihat di pembibitan dengan sistim drainase jelek. Serangan cendawan ini mengakibatkan tanaman layu.


5. Busuk buah (fruit rot)


Penyebabnya adalah Phytopthora arecae. Gejala bercak basah terlihat pada permukaan buah dekat kelopak bunga (perianth). Bercak ini akan menyebar sehingga warna buah berubah menjadi hijau tua. Jika bercak mencapai bagian apikal buah maka akan menyebabkan buah gugur. Pengendalian secara kimia dapat di lakukan dengan fungisida Copper oxychlorride serta fitosanitasi (pembersihan) kebun. Pengendalian lainnya dengan melakukan fotosanitasi pada kebun-kebun.


6. Busuk Pucuk (Bud rof)


Penyebabnya sama dengan penyakit busuk buah. Yaitu P. Arecal. Bagian yang diserang adalah pangkal spidel pangkal spindle berwarna berangsur bagian yang terinfeksi serangan berat menyebabkan kuning coklat pucuk membusuk dengan bau khas. Pembersihan lokasi pertanaman dari tanaman terserang akan mencegah penyebaran penyakit.


7. Daun menguning (Yellow leaf disease)


Penyebabnya adalah mycoplasm like organism (MLO). Daun yang terserang memperlihatkan warna kekuningan dan terdapat garis-garis nekrotik. Pada lamina daun. Pertumbuhan daun akan mengecil sehingga produksi buah menurun. Daging buah berwarna kehitaman. Pengendalian dengan cara terpadu dengan pemupukan, penggunaan fungisida 2 g phorate granula per pohon serta fitosanitasi.


8. Busuk kaki (Foot rot)


Penyebabnya adalah Ganoderma lucidum. Munculnya penyakit ini karena kurang pemeliharaan kebun, drainase jelek. Tanaman yang terserang menunjukan gejala kekeringan dimana daun menguning, terkulai dan akhirnya patah. Infeksi lanjut yaitu batang terlihat bercak coklat tidak beraturan dan mengeluarkan cairan. Akar tanaman akan membusuk. Untuk menghindari perlu pengaturan sistim drainase, kebersihan kebun. Bebeberapa mikroorganisme antagonis seperti Trichoderma sp, Streptomyces sp. dapat menjadi agen hayati pengendalian penyakit ini.


9. Die back pembungaan dan bubur buah


Cooletotrichum gloesporioides berasosiasi dengan penyakit ini. Gejalanya terlihat tulang daun menguning dan terlihat mengering mulai ujung daun sampai ke arah pangkal. Bunga betina akan gugur. Faktor lainnya yang menyebabkan gugur buah adalah kegagalan polinasi, kandungan unsur hara kurang, cekaman air dan temperatur atupun faktor fisiologis.


Pengendalian dengan fungisida Dithane 4 g/L air pada 2 tahap yaitu dilakukan pada saat bunga betina terbuka dan pada 20-24 hari berikutnya.


10. Bacterial leaf stripe.


Penyebab yaitu Xanthomonas campestris pv. Arecae. Gejala daun terlihat bercak-bercak selebar 0.5-1.0 cm. Permukaan bagian bawah daun ditutupi oleh bakteri. Daun yang terserang menimbulkan bercak yang tidak teratur berwarna putih keabuan atau kekuningan. Penyemprotan dengan antibiotik tetracyclin 1 g/2 L air yang dilakukan setiap 2 minggu.


11. Mengecil (Band)


Penyebab penyakit ini belum diketahui. Gejalanya yaitu daun menjadi pendek, mengecil dan berbentuk sapu. Warna daun menjadi hijau tua, batang meruncing dan jarak antar ruas batang memendek. Mahkota pohon bentuk seperti berbunga mawar, sehingga pembungaan menjadi tidak sempurna, dan produksi buah menurun. Pengendalian penyakit dilakukan dengan perbaikan drainase, penggemburan tanah. Pemberian campuran Copper sulfat dengan kapur perbandingan 1 : 1 dengan dosis 225 g per pohon per 6 bulan dapat memperbaiki kondisi lingkungan tumbuh.


12. Batang Berdarah (Stem bleeding)


Penyebabnya adalah Thielaviopsis paradoxa Von Hohn (Ceralostomelia paradoxa). Terjadi perobahan warna pada bagian yang terinfeksi di bagian batang dan jaringan lembut serta mengeluarkan cairan berwarna coklat gelap. Dugaan bahwa penyakit ini berkembang akibat air tanah yang dangkal dan drainase jelek. Untuk menghindari serangan hama Xyleborus sp. Yang dapat masuk melalui lobang tersebut dilakukan penempelan dengan tar dan insektisida.


13. Buah Retak (Nut splitting)


Penyebabnya karena ketidak seimbangan fisiologis. Karakteristik penyakit ini terlihat dari buah pinang yang retak-retak. Gejala yang dimulai dengan buah kekuningan ketika buah setengah matang atau tiga per empat bagian matang. Perbaikan drainase dan penyemprotan dengan Borax 2 g/1 l air pada tahap awal dapat menekan serangan penyakit.


Umumnya buah pinang akan terserang penyakit pada saat panen, prosesing sampai penyimpanan. Sumber infeksi terutama berasal dari;

  1. Infeksi pada tanaman. Buah pinang yang berasal dari tanaman terserang penyakit buah pecah (nut spliting) akan mudah terserang juga oleh organisme sekunder seperti: Aspergiles sp. dan Penicilium sp
  2. Infeksi selama panen dan prosesing. Buah pinang yang biasanya panen kemudian terjatuh ketanah sering ditemukan adanya infeksi ke buah tersebut. Jenis cendawan yang ditemukan seperti Aspergillus niger, A. Flavus, Botryodiplodia theobromae dan Rhizopos sp. Kurangnya pemanasan selama proeses pengeringan awal tentu akan memudahkan tumbuhnya cendawan-cendawan tertentu.
  3. Infeksi selama pengangkutan dan penyimpanan. Buah pinang yang dipanen dan keranjang yang digunakan untuk menampung harus bersih. Demikian pula pada penyimpanan di gudang haruslah dalam keadaan yang terkontrol. Cendawan yang sering ditemukan pada proses pasca panen adalah Aspergillus niger arecae, Subramanella arecae.
Untuk pengendalian penyakit selama proses panen sampai di gudang atau tempat penyimpanan, menghindari kontak langsung buah pinang dengan tanah. Buah pinang sebaiknya dimasukan ke dalam karung goni polyetylen dan melakukan fumigasi ruang penyimpanan dengan ethylene dibromide.

Ada 2 cara pengendalian hama gudang:

  1. Pengendalian hama secara preventif yaiitu dengan cara spraying pada lantai, atap, dinding bagian dalam dan luar. Pestisida yang digunakan adalah pestisida yang bersifat residual dan pilih yang ramah lingkungan.
  2. Pengendalian hama secara kuratif yaitu dengan cara fumigasi. Prinsip fumigasi adalah mematikan hama yang ada pada waktu tersebut. Sering kali penanganan dengan cara tidak mempunyai residual effect sehingga setelah fumigasi selesai, komoditas akan mudah terserang kembali oleh hama. 
Untuk Anda yang ingin sukses berkebun pinang secara intensif, pelajari dulu cara atau teknik budidaya pinang secara intensif.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon