17 Oktober 2014

"Angin Surga" di Desa Kaya Gas Alam

Petaka datang pada akhir 1974. Ketenangan mulai terusik.

Image: http://energitoday.com/
GampongRT - Empat puluh tahun silam, Blang Lancang merupakan desa kecil di wilayah pesisir Aceh Utara. Desa ini ditempati sekitar 542 kepala keluarga. Hidup aman dan rukun. Sebagian besar mata pencaharian warga adalah nelayan.

Petaka datang pada akhir 1974. Hidup rukun yang dijalani menjadi terusik dengan dibangunnya perusahaan gas terbesar di Indonesia kala itu. Rakyat Blang Kancang digusur. Mereka dipaksa pindah dari desanya dengan iming-iming ‘angin surga’. Kebutuhan hidup mereka hingga anak cucu akan dipenuhi semua.

Mereka pun setuju dan pindah. Sebagian dari mereka menempati lokasi lain di Desa Ujong Pacu, sementara beberapa lainnya berpencar ke beberapa desa. Namun mereka mempersatukan diri dalam sebuah organisasi, Ikatan Keluarga Blang Lancang atau IKBAL.

Tak hanya mereka yang hidup, sejumlah makam miliki orang tua mereka juga pun digusur dan tidak tau ditimbun di mana. “Makam keluarga kami, orang tua kami juga dikerok. Kami nggak tahu ditimbun di mana,” kata salah seorang warga IKBAL.

Bukan tanpa alasan, kilang LNG Arun yang dibangun oleh Pertamina memilih lokasi Blang Lancang, karena letaknya yang sangat strategis. Terletak di Pantai Utara Sumatera, Blang Lancang akan memberi kemudahan transportasi laut dan juga berada dekat dengan ladang gas Arun.

Dalam laman PT Arun ditulis, keputusan membangun LNG Arun dibuat setelah ditemukannya salah satu sumber gas terbesar di dunia sebesar 17 triliun kaki kubik pada 1971 oleh Mobil Oil Indonesia Inc. Mobil Oil yang sudah merger dengan Exxon dan berubah nama menjadi ExxonMobil merupakan mitra usaha Pertamina atas dasar kontrak bagi hasil.

Dalam sejarahnya, sejak 1968 ExxonMobil telah melakukan kontrak bagi hasil dengan Pertamina untuk pencarian sumber-sumber minyak dari perut Bumi di darat maupun di lepas pantai. Pada 1969, Mobil Oil mulai mengerahkan pencariannya di Aceh dengan fokus utama di Aceh Utara.

Perusahaan minyak Socony yang pernah beroperasi di Sumatera telah mendeteksi bahwa di Aceh terdapat kandungan gas yang besar jumlahnya.
Tidak Jelas
Pencarian oleh Mobil Oil yang dikoordinasi Pertamina Unit I dikonsentrasikan di Desa Arun, Kecamatan Syamtalira, Aceh Utara. Nama desa inilah yang kemudian disematkan pada perusahaan yang diresmikan pengoperasiannya oleh Prseiden Soeharto kala itu.

Hari demi hari pun terus berlalu. Namun IKBAL tak kunjung memperoleh angin surga yang telah dijanjikan itu. Berkali-kali mereka melakukan aksi, namun hingga kini tidak pernah ada kejelasan soal nasibnya.

Kini, PT Arun pun telah berakhir. Perusahaan raksasa itu telah mengirimkan LNG terakhirnya ke negeri Gingseng, Korea Selatan, Rabu, 15 Oktober 2014. Sebelum dilepas, sang Kapten Kapal, Lee Joung Kwon serta Chief Enginering, Hong Seong Ji Will juga ditepung tawari, sebuah tradisi dari Suku Melayu.

Sekitar pukul 10.00, kapal bernama Hanjin Pyeong Taek itu pun meninggalkan dermaga. Tanda Lapagan Gas Arun pensiun. Namun janji-janji "angin surga" itu belum terpenuhi juga. (ren)

Sumber: vivanews.co.id

Artikel Terkait

Media Informasi dan Edukasi Berdesa


EmoticonEmoticon