1 November 2014

Janeng yang Terlupakan

Janeng termasuk dalam jenis umbi umbian, pohonnya kecil dan berduri kecil, merambat seperti pohon sirih (bak ranup). Daunnya berwarna hijau bila masih muda. Biasanya tumbuh liar dihutan-hutan di bawah pohon yang randu atau teduh. Pohon janeng memiliki buah besar yang menghujam ke bawah tanah.

Tanaman janeng adalah tumbuhan hutan berjenis umbi-umbian. Dalam bahasa latin termasuk dalam anggota marga Amorphopallus campanulatus. Sekarang di provinsi Aceh, varitas tanaman janeng semakin langka di hutan-hutan.

Dulu, pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang, boh janeng atau buah janeng oleh para indatu kita dijadikan sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras dan bahan baku makanan tradisional lainnya, terutama di daerah perdesaan.

Pohon janeng tumbuh di semak-semak belukar, berkembang baik di tempat-tempat yang lembab dan terlindungi dari sinar matahari. Tinggi pohon janeng lebih dari 1 meter dengan ciri - ciri; batangnya lunak, berduri kecil, dan berwarna hijau. Akarnya berserabut putih kotor. Buahnya berwarna putih dan berat buahnya bisa mencapai 7-10 kg. 

Buah janeng memiliki nilai gizi yang tinggi, dengan kandungan utama adalah karbohidrat sekitar 70-85%. Kandungan lain, seperti serat, vitamin, kalsium, zat besi, dan protein. Buah ini cocok dikonsumsi oleh penderita penyakit diabetes karena kandungan glisemik yang rendah dapat menekan peningkatan kadar gula darah. 

Sebelum dimakan, buah janeng yang sudah digali dari tanah, terlebih dahulu dibuang kulitnya dan dicuci dengan air. Selanjutnya diiris-iris atau dicincang kecil-kecil, dicuci lagi sampai bersih kemudian ditumbuk sampai lunak (tumbuk-tumbuh dalam karung). 

Setelah proses tumbuk selesai, dijemur diterik matahari. Oleh sebagian masyarakat perdesaan langsung "geuseuop lam sangku" (mengukus hingga empuk kemudian dicampur dengan parutan kelapa) woo....enaknya..

Dalam kondisi segar, janeng dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kue tradisional maupun aneka kudapan lainya. Janeng juga bisa bahan campuran kolak, bubur, atau dibuat sayur berkuah santai (digulai atau gule leumak).

Sebagai anak perdesaan, saya baru sekali merasakan makanan yang terbuat dari buah janeng, sekitar tahun 1985 dengan rasanya yang hambar. 

Buah janeng, saya istilahkan tanaman buah yang berjasa dalam perjuangan, sekarang janeng yang terlupakan.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon