12 Januari 2016

Desa dan Pertanian Negeri Seberang

Sawah terasering) terletak di Hamanoura, Jepang
GampongRT - Indonesia merubah konsep desa sebagai objek pembangunan menjadi desa sebagai pelaku pembangunan. Sedikit perubahan kata namun memberi dampak yang besar dengan potensi yang sangat luar biasa.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat desa, harus memiliki inovasi dan kreatifitas dalam mengelola sumber daya dan peluang yang ada. Tidak ada salahnya pula bila belajar ke desa-desa yang ada di negara seberang lautan.


“Banyak yang bisa dipelajari dari negara lain,” ujar anggota Komisi II DPR RI fraksi PDI-Perjuangan Budiman Sudjatmiko kepada metrotvnews.com di Jakarta, Kamis (14/1/2016).

Misalnya, Indonesia bisa meniru Brasil dengan skema bantuan transfer dana bagi masyarakat ekonomi bawah untuk pembangunan desa. Bahkan Brasil kini juga telah memperluas skema bantuannya kepada masyarakat perkotaan untuk semakin mendorong pertumbuhan ekonomi.

Indonesia juga dapat meniru Thailand yang diakui sebagai salah satu negara tujuan terbaik dunia. Negeri Gajah Putih menyulap desa-desanya untuk tujuan pariwasata dengan perbaikan infrastruktur dan pendidikan kepada masyarakatnya untuk melayani turis dengan baik.

Pendekatan sektor pariwisata untuk menggenjot perekonomian juga dilakukan di Eropa. Antara lain Greenwich di Inggris, Regensburg di German, Brugel di Belgia dalam semangat untuk menjaga kekhasan gaya bangunannya dapat ditiru. Kota tua yang dulunya hanya desa-desa kecil di abad pertengahan tersebut dapat menjadi contoh yang baik untuk menunjukkan pembangunan tidak perlu menghilangkan tradisi.

Masih banyak pertumbuhan desa-desa negara lain yang bisa ditiru. Pendekatan negara tersebut membangun desanya pun dapat dipelajari.

Saemaul Undong, gerakan desa baru Korea Selatan

Kore Selatan adalah salah satu yang negara yang bisa menjadi tempat Indonesia belajar pembangunan desa. Siapa sangka negara tempat banyak raksasa teknologi bermarkas itu dulunya sangat miskin. Bahkan mereka tercatat sebagai negara yang jauh lebih miskin ketimbang Indonesia pada era-1950an.

Gerakan bernama Saemaul Undong menjadi salah satu alasan.

Saemaul Undong yang secara harfiah adalah gerakan desa baru, merupakan suatu gerakan perubahan dan reformasi pedesaan untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Gerakan ini dicanangkan oleh Presiden Park Chung Hee yang melakukan kudeta pada 1961.

Gerakan Saemaul Undong pun diperkenalkan pada tahun 1970 kepada masyarakat Korea. Ada beberapa semangat yang dibawa gerakan ini. Semangat pembangunan nasional untuk keluar dari kemiskinan, semangat reformasi spiritual untuk modernisasi masyarakat Korea, semangat pengembangan berpusat di sekitar masyarakat pedesaan, semangat persatuan rakyat untuk mengatasi konflik antar kelas sosial, serta semangat untuk mewarisi dan mewariskan tradisi masyarakat.

Gerakan Saemaul Undong direncanakan dan dilaksanakan oleh penduduk desa sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia. Program yang dijalankan pada tahun-tahun pertama lebih banyak fokus kepada perbaikan infrastruktur. Mulai dari pelebajaran jalan, pembangunan jembatan, drainase dan instalasi air bersih, dan cocok tanam jenis tanaman yang cepat memberi tumbuh dan memberi manfaat.

“Jadi ini persis semacam gotong royong. Tapi program dibuat secara resmi oleh pemerintah. Pada awalnya pemerintah memberi modal per desa untuk program perbaikan, jika berhasil ditambah,” kata pengamat budaya Korea Suray Agung Nugroho kepadametrotvnews.com, Senin (11/1/2016).

Program yang dicanangkan pada April mendapat perhatian dari Bank Dunia pada Agustus 1970. Chung Hee menggunakan dana tersebut untuk pembelian belasan juta sak semen yang didistribusikan merata kepada 33.267 desa di Korea Selatan pada saat itu.

Gerakan pembangunan dengan desa sebagai pusatnya ini cukup unik karena gerakan dikenalkan ke masyarakat oleh relawan yang tidak digaji. Relawan ini diberikan pendidikan oleh pemerintah Korea Selatan untuk memastikan keberhasilan program Saemaul Undong. Pemimpin Saemaul, sebutan untuk para relawan, bekerja sama dengan kepala desa agar program terlaksana dengan baik. Mereka bahkan harus turun tangan membujuk penduduk desa agar berpartisipasi.

Program terus diusung selama Chung Hee menjabat dengan membawa asas geun myeun (ketekunan), jajo(swadaya), dan hyom dong (kerjasama). Gerakan yang terus menerus dilaksanakan selama hampir sepuluh tahun ini akhirnya mengakar ke masyarakat pedesaan di Korea Selatan. Walau akhirnya Presiden Chung Hee tewas terbunuh, semangat pembangunan dari desa dan asas yang dibawa Saemaul Undong akhirnya mempengaruhi masyarakat negeri ginseng secara keseluruhan.

Desa Jepang, semangat inovasi dan tradisi

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan perbedaan antara Korea Selatan dan Jepang dalam membangun desa-desanya.

Kedua negara ini sama-sama negara yang besar setelah perang dunia pertama. Keduanya sama-sama diporakporandakan oleh perang. Keduanya juga sama-sama membawa semangat pembangunan dari pinggiran.

Jepang lebih terciri dengan caranya menghasilkan inovasi dengan tetap menjaga tradisi. Inovasi di Jepang tidak hanya terjadi di perkotaan tapi juga pedesaan.

Desa Kawakami Perfektur Mura menjadi salah satu contoh. Jika desa-desa di negara lain hanya berusaha menghasilkan produk ternak dan pertanian yang sama, desa Kawakami berusaha meningkatkan kualitas pertaniannya dengan melakukan inovasi penanaman selada dan kol.

Dengan selada dan kol yang segar, beraroma sedap dan terasa manis pun berhasil membuat desa ini menjadi sangat terkenal. Bahkan dengan penghasilan dua tanaman tersebut, penduduk “desa sayuran” memiliki penghasilan per tahun hingga 25 juta yen.

Pengasilan tersebut 50 persennya berasal dari perkebunan selada dan 30 persennya dari kol. Sedangkan sisanya dari sayuran lain. Sekali panen, mereka bisa mengekspor puluhan ribu boks sayuran ke luar negeri selain untuk konsumsi dalam negeri.

Dengan penduduk desa yang hanya berjumlah sekitar 4.800 orang, Kawakami berada di atas rata-rata daerah lain. Generasi muda di desa ini pun tergolong tinggi dibanding pedesaan lain di Jepang. Bagi warga Kawakami, menjadi penduduk desa adalah kebanggaan.

Tidak hanya di Desa Kawakami, hal yang sama juga terjadi di desa-desa sekitar Kota Matsusaka dan Kota Kobe. Inovasi peternak membuat desa-desa di wilayah ini terkenal dengan sapi Wagyu (sapi Jepang) hingga ke mancanegara.

Sapi Wagyu diternakan dengan kondisi alami. Sapi pun dijaga dengan untuk tidak stres dan secara rutin diberi relaksasi. Bahkan sapi-sapi diberi minuman khusus. Ini membuat daging Wagyu terasa lembut dan beraroma jauh lebih nikmat.

Tidak tanggung-tanggung, peternak juga menerapkan sistem kelas daging Wagyu dari skala 1 sampai 9. Akibat kualitas yang tinggi dan tradisi yang terus dijaga, daging Wagyu menjadi makanan kelas atas. 100 gram daging Wagyu harganya dapat mencapai USD50.

Inovasi yang dilakukan Jepang tetap diiringi dengan menjaga tradisi. Di tengah perkembangan teknologi dan industrialisasi Jepang, negeri matahari terbit tetap memilki desa indah yang menjaga tradisi. Desa Shirakawago misalnya.
Desa Shirakawago menjadi salah satu Situs Warisan Dunia yang berada di Jepang. Situs ini terletak di lembah sungai Shokawa di perbatasan Prefektur Gifu.

Desa Shirakawago terkenal dengan rumah tradisionalnya yang berusia lebih dari 200 tahun. Rumah Gassho-zukuri (konstruksi tangan berdoa) terciri dengan bentuk atap rumah yang miring dan melambangkan tangan orang yang sedang berdoa.

Desain rumah ini sangat kuat dan memiliki bahan atap yang unik karena iklim daerah Shirakawago. Kawasan tempat desa ini berada terkenal dengan saljunya tebal. Semua atap rumah di Desa Shirakawago menghadap ke timur dan barat. Ini bertujuan salju yang menumpuk segera bisa mencair ketika terkena matahari.

Karena atap menghadap arah matahari, semua ventilasi yang terletak di loteng mengarah ke selatan dan utara. Dengan begitu aliran udara dan angin bebas keluar masuk sehingga menciptakan sistem ventilasi yang terbaik.

Rumah gassho-zukuri terbuat dari kayu. Seluruh bangunan juga tidak menggunakan paku. Seluruh rumah hanya disatukan dengan tali yang terbuat dari jerami yang dijalin atau neso.

Negeri semaju Jepang pun tetap menjaga tradisi.

Desa terkaya di dunia ada di Tiongkok

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Tiongkok. Indonesia pun tidak salah jika ingin belajar cara membangun desa yang kaya ke Tiongkok. Sebab, saat ini Desa Huaxi yang berada di Provinsi Jiang Shu.

Dalam waktu 50 tahun, Xuahi berhasil merubah diri dari desa miskin menjadi desa terkaya dengan prinsip “maju dan makmur bersama”. Huaxi bersama desa-desa modern lain merupakan wujud hasil kerja keras, kebersamaan, sekaligus kebebasan desa untuk membangun diri scara mandiri.

Perkembangan Xuahi ditandai saat kebijakan politik “membubarkan komune rakyat” dilakukan pada 1980. Wu Renbao sebagai sekretaris partai tingkat desa memilih mempertahankannya.

Asas saling berbagi dan semangat membangun bersama yang tetap dipegang desa walau komune rakyat dihapus membuat Huaxi tumbuh sebagai desa dengan industri pertanian yang modern. Bermodalkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Huaxi telah memiliki banyak usaha, membangun pabrik baja, dan industri pariwisata.

Pembangunan berbasis desa dengan pusat BUMDes membuat masyarakat desa Xuahi menjadi sangat makmur. Sekitar 35.000 penduduk desa Xuahi menjadi masyarakat berekonomi makmur. Tiap orang setidaknya memiliki tabungan USD250 ribu, rumah seluas 400 meter persegim mobil sedan, perawatan kesehatan dan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi, hingga saham tersebar di perusahaan milik desa.

Semua atas pemberian pemerintah desa.

Bisnis di Xuahi sangatlah bervariasi saat ini. Mulai dari perkapalan, tembakau, baja, hingga tekstil. Untuk mempermudah pebisnis mengeksplorasi Huaxi dan kota-kota terdekatnya, pemerintahan desa bahkan menyewakan taksi helikopter.

Pada 2011 lalu, pemerintahan Desa Huaxi mendirikan gedung pencakar langit setinggi 328 meter yang menjadi salah satu bangunan pencakar langit tertinggi dunia.

Memang tak ada salahnya Indonesia belajar ke desa negeri seberang. Apalagi dengan UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, desa-desa di nusantara didorong untuk semaking berkembang.

Berkaca ke Vietnam dan Thailand untuk pertanian

Salah satu cita-cita Indonesia adalah menjadi negara agraria yang mampu swasembada pangan. Cita-cita luhur ini sudah muncul semenjak zaman Indonesia merdeka.

Guru besar ekonomi IPB Hermanto Siregar menyebutkan hal ini akan sulit terjadi karena beberapa kelemahan Indonesia. Pertama terkait konsesi lahan pertanian Indonesia yang terus menyusut.

"Konsesi lahan pertanian banyak yang berubah menjadi perumahan atau peruntukan industri," cerita Hermanto kepada metrotvnews.com, Senin (11/1/2016).

Setiap tahunnya konsesi lahan pertanian berkurang hingga 100 ribu hektare per tahun. Penyusutan terbesar paling banyak terjadi di pulau Jawa, Sekitar 40 ribu hektare tiap tahunnya.

Memang pemerintah Indonesia belakangan sudah berupaya membuka lahan-lahan pertanian baru. Tapi perbandingannya jauh lebih kecil dibanding pengalihan konsesi lahan yang terjadi. Penambahan lahan hanya sekitar 5.000 hektare per tahun.

"Dibutuhkan kesungguhan dari pemerintah untuk menegakkan hukum alih fungsi lahan pertanian," ucap Hermanto menyayangkan pertanian Indonesia yang semakin kalah dengan negara tetangga.

Sudah saatnya Indonesia berkaca ke negara tetangga dalam memajukan pertanian. Thailand dan Vietnam bersungguh-sungguh dalam menguatkan sektor pertanian. Berbeda dengan Indonesia, Thailad dan Vietnam berani untuk mempertahankan luas lahan pertaniannya.

Vietnam menetapkan wilayah delta Mekong sebagai kawasan pertanian yang tidak boleh diganggu gugat. Thailand juga menetapkankan lahan pertaniannya tidak boleh dialih fungsikan.

Indonesia juga masih ketinggalan soal teknologi pangan. Walau sama-sama terus mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pangan, Indonesia masih ketinggalan dibanding kedua negara tersebut.

Produktivitas lahan padi dapat dijadikan contoh. Rasio perbandingan jumlah hasil panen dibanding luas lahan padi Indonesia hanya 1 ton per hektar. Sedangkan Vietnam berhasil mencapai angka 5,4 ton per hektar.

Produktivitas Thailand memang sedikit lebih rendah dibanding Indonesia. Tapi Thailand mampu jauh meninggalkan total hasil produksi padi Indonesia karena jumlah lahan yang luas dibanding kebutuhan mereka. Akhirnya beras Thailand mampu memasuki pasar Indonesia. Bukan sebaliknya.

Soal pengembangan teknologi pangan Indonesia juga tidak fokus seperti kedua negara tersebut. Setidaknya ada dua kelemahan Indonesia yang dilihat oleh pengamat pertanian ini.

Pertama, Indonesia tidak fokus dalam menggunakan anggaran pengembangan teknologi pertanian Indonesia. Terlalu banyak komoditas yang dikembangkan, sedanggkan anggaran terlalu yang ada sangat terbatas.

Kedua, terlalu banyak lembaga yang melakukan riset dan pengembangan pangan. Secara logis, semakin banyak lembaga yang mengembangkan seharusnya memberi dampak positif. Namun yang terjadi di Indonesia justru tumpang tindih penelitian. Saat Kementerian melakukan riset suatu komoditas, lembaga pendidikan tinggi dan universitas juga melakukan riset komoditas yang sama.

Thailand menyerahkan riset komoditas pertanian ke universitasnya. Ketika hasil riset keluar, pengembangan tersebut diserahkan ke pemerintah untuk diimplementasikan.

"Supaya tidak tumpang tindih antara riset satu lembaga dengan riset lembaga lain," Hermanto menegaskan.

"Jadi untuk memajukan pertanian, Indonesia hanya butuh fokus," tandas Hermanto. 

Sumber: metrotvnews.com
Foto ilustasi: apakabardunia.com

Artikel Terkait

Media Informasi dan Edukasi Berdesa


EmoticonEmoticon