1 September 2016

Dari Hasil BUMDES, Warga Desa Ini Dapat Uang Rp300 Ribu Per Bulan

GampongRT - Kemampuan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) menjadi motor pembangunan ekonomi perdesaan bukanlah cerita kosong. Hal ini telah dibuktikan oleh BUMDES Titra Mandiri Desa Ponggok, Kecamatan/Kabupaten Klaten, Jawa Tengah menjadi buktinya.

Badan Usaha Milik Desa yang mulai dirintis sejak tahun 2009 ini, awalnya hanya mengelola air bersih untuk warga desa. Seiring perjalanan waktu, keberadaan BUMDES Tirta Mandiri semakin menggurita dengan berbagai bidang usaha, dari mengelola destinasi wisata, kolam renang, perikanan, pembinaan PKL, penyediaan air bersih, jasa kontruksi, kios kuliner, simpan pinjam, pajak online hingga pengadaan barang dan jasa. 

"Dari usaha yang dikelola oleh BUMDES Tirta Mandiri mampu mencetak laba bersih hingga Rp2 miliar per tahun. Seluruh pegawai BUMDES adalah warga desa dengan gaji berkisar Rp2 juta per bulan". 

Aktivitas BUMDES Tirta Mandiri, Desa Ponggok, Kecamatan/Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dapat Anda lihat disini.
Foto: Twitter Desa Ponggok

Pengembangan potensi Desa Ponggok tak lepas dari peran vital BUMDes Tirta Mandiri. BUMDes yang awal hanya mengelola air bersih untuk warga, kini menggurita dengan berbagai unit usaha. 

BUMDes Tirta Mandiri didirikan pada Desember 2009. Pengelolaan dan modal usaha berasal dari sumber daya lokal tanpa melibatkan pihak luar. Kepala Desa (Kades) Ponggok Junaedi Mulyono menuturkan, BUMDes dipilih karena struktural tanggung jawabnya jelas dan berbeda dengan kelompok koperasi maupun yayasan. 

Pengelolaan dan modal usaha berasal dari sumber daya lokal tanpa melibatkan pihak luar. Kepala Desa (Kades) Ponggok Junaedi Mulyono menuturkan, BUMDes dipilih karena struktural tanggung jawabnya jelas dan berbeda dengan kelompok koperasi maupun yayasan. 

“Strategi kami potensi yang dimiliki, ya harus kami sendiri yang mengelola, memanfaatkan. Kalau ada keuntungan ya kita. Maka saya ajak masyarakat daripada dikelola orang lain, mengapa tidak kita kelola.”

“Dengan gotong royong, sama-sama lalu bikin unit usaha baru,” katanya, kemarin. Jonet, sapaan akrabnya menjelaskan, saat ini sudah ada sekitar 200 kepala keluarga (KK) bergabung di BUMDes dari total 700 KK di Ponggok.

Rata-rata setiap KK berinvestasi Rp5 juta untuk modal pengembangan BUMDes. Belum termasuk investasi dari lembaga semisal RT, RW, PKK, dan BPD yang bisa menyertakan modal Rp100 juta per lembaga. Keuntungan pengelolaan unit usaha akan dibagi dengan pemilik saham.

Selain pengelolaan air bersih dan pariwisata, BUMDes Tirta Mandiri mengelola penyewaan kios kuliner, unit simpan pinjam, sewa gedung, dan sewa kolam perikanan. Unit usaha terbaru adalah Toko Desa yang berada di Jalan Delanggu-Cokro.

Keberadaan toko dengan tampilan toko modern ini sangat mendukung pariwisata Ponggok karena menyediakan kebutuhan sehari-hari. Rencananya tahun ini BUMDes Tirta Mandiri kembali melebarkan sayap bisnisnya dengan membangun pabrik air minum dalam kemasan (AMDK) dan revitalisasi kawasan wisata terpadu Banyumili.

Pengembangan unit usaha tersebut dipastikan menampung tenaga kerja dari warga Ponggok. “Serapan tenaga kerja itu jelas. Seperti untuk mengelola umbul Ponggok saja sudah menyerap sekitar 35 orang pegawai, lalu berapa yang di sektor perikanan, manajemen BUMDes sendiri sudah 50 orang.

Kalau pabrik air minum lalu Banyumili sudah kami dirikan, nanti sekitar 200 orang terserap. Jadi warga akan tertampung di unit-unit yang kami buka,” ujar Jonet. Ketua BUMDes Tirta Mandiri Desa Ponggok, Untung Hari Margono mengatakan, pihaknya sempat mengalami kendala ketika mengembangkan BUMDes pada masa awal.

Lelang kios kuliner Rp5 juta per tahun di Umbul Ponggok tidak diminati sama sekali karena kepadatan pengunjung hanya menjelang Ramadan dan Lebaran. Bahkan promosi Umbul Ponggok yang dilakukan menggunakan pamflet dan MMT tidak bisa menarik minat wisatawan. Namun, keterbatasan modal justru menjadi pemantik ide kreatif para pengelola Umbul Ponggok. Mereka memanfaatkan demam media sosial (medsos) yang melanda generasi muda. “Mulai Juni 2014, kami pakai medsos untuk promosi umbul.

Tiap hari kami unggah fotofoto umbul. Beruntungnya respons netizen cukup baik dan sampai seperti ini. Sekarang kunjungan rata-rata sehari 500- 600 orang, akhir pekan 2.000- 3000 orang, dalam sebulan minimal 30 ribu kunjungan,” kata dia.

Umbul yang hanya berukuran 40x70 meter ini memang menawarkan sensasi tersendiri. Pemandangan bawah air yang jernih dengan ribuan ikan hias bisa dinikmati dengan jelas. Karena itu, Umbul Ponggok cocok untuk pemotretan bawah air karena jarak pandang lebih luas.

Umbul Ponggok beberapa kali dipercantik dengan penambahan dan perbaikan fasilitas. Tahun lalu, BUMDes mengucurkan anggaran Rp3,5 miliar untuk pembangunan lapisan tepi kolam, kios-kios kuliner, panggung, lantai batu alam, papan luncur, dan lainnya.

Dari pendapatan BUMDes 2015 sebesar Rp5,1 miliar, Umbul Ponggok menyumbang sekitar 80% dan sisanya berasal dari unit-unit usaha lain.

Jaminan Kesehatan dan Sosial Ditanggung Desa

Pendapatan Asli Desa (PADesa) dan pendapatan BUMDes Ponggok yang tinggi dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan dasar masyarakat, seperti jaminan kesehatan, sosial, dan pendidikan. Pemberian bantuan dilakukan bertahap dengan menyasar seluruh warga.

Bantuan kesehatan berupa BPJS Kesehatan mulai diberikan pada akhir April. Tahap awal ada 115 warga yang menerima. Sedangkan 433 warga lainnya masih dalam tahap pendataan. Adapun bantuan pendidikan berupa uang saku Rp300 ribu per bulan untuk mahasiswa asal Ponggok.

Saat ini sudah ada 60 mahasiswa menerima bantuan tersebut. Kepala Desa (Kades) Ponggok, Junaedi Mulyono menuturkan, bantuan pendidikan termasuk program Satu Rumah Satu Mahasiswa.

“Karena untuk mengelola potensi desa kami butuhkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. SDM itu dari desa sendiri. Jadi jangan sampai upaya yang telah dilakukan selama ini terputus. Sedangkan warga yang belum punya asuransi kesehatan kami bayari dengan anggaran desa,” ujarnya, kemarin.

Sementara jaminan sosial bagi masyarakat miskin, jompo, dan yatim piatu berupa uang lauk pauk sebesar Rp300 ribu per bulan. Jonet berharap dengan bantuan uang lauk pauk dapat membantu memenuhi kecukupan gizi warga yang kurang mampu.

“Kami pakai APBDes yang disetor oleh BUMDes. Maka sekarang kebutuhan sandang, pangan, dan pendidikan bisa di-cover ,” kata dia. Sekretaris Desa (Sekdes) Ponggok Yani Setiadi menambahkan, keberhasilan Ponggok sebagai desa dengan pendapatan tertinggi se-Klaten merupakan prestasi yang membanggakan.

Pasalnya, Ponggok sempat menyandang inpres desa tertinggal (IDT) pada 2001. Ponggok kini menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan BUMDes. “Banyak daerah yang berkunjung kesini untuk berbagi ilmu mengelola BUMDes.

Prinsipnya adalah menggali potensi dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat,” ucapnya.[]

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon