21 Juni 2015

Stop Membakar Sampah, Ini Bahayanya Bagi Kesehatan

Sampah telah menjadi masalah utama di masyarakat moderen. Dimana tingkat produksi sampah terus meningkat cukup drastis, seiring bertambahnya populasi manusia itu sendiri. Sampah jika dikelola dengan baik mempunyai nilai tambah dan bermanfaat, dapat menjadi pembangkit listrik berbahan bakar sampah.

Sampah yang kita hasilkan sangat banyak jumlahnya, sementara tempat pengolahan sampah yang ada masih kurang mencukupi baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Produksi sampah per orang diperkirakan mencapai 0,5 - 0,8 kg per hari. Volume sampah dari 200.000 orang dapat mencapai 100 ton per hari. Dari jumlah tersebut hanya 40-50 persen yang tertampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sementara sisanya berakhir di lahan-lahan kosong atau dibakar.

Membakar sampah. Praktik membakar sampah ini masih banyak ditemui di sekitar kita, terutama di daerah pemukiman. Hal ini tentu saja sangat mengganggu pejalan kaki yang melintas dan terpaksa menghirup asapnya. Asap hasil pembakaran sampah sangat berbahaya dan bersifat racun karena menghasilkan senyawa berbahaya seperti karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), dioksin, benzopirena, partikulat, dan masih banyak lagi.

CO dan CO2 dapat mengganggu fungsi kerja hemoglobin

CO dapat berikatan dengan hemoglobin dan membentuk ikatan karboksihemoglobin yang memiliki afinitas yang kuat sehingga sulit untuk terpisah (waktu paruhnya sekitar 4-5 jam). Hal ini menyebabkan oksigen di dalam darah -yang seharusnya berikatan dengan hemoglobin menjadi berkurang dan menyebabkan hipoksia, ekstremnya juga dapat mengganggu perkembangan janin. Satu ton sampah yang dibakar kira-kira berpotensi menghasilkan gas CO sebesar 30 kg.

Hampir sama dengan CO, CO2 juga dapat berikatan dengan hemoglobin membentuk kompleks karbaminohemoglobin sehingga hemoglobin untuk mengikat oksigen menjadi berkurang. CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap peningkatan temperatur bumi.

Dioksin merupakan senyawa polutan organik yang persisten (POP)

Artinya, dioksin sukar terurai dan dapat terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup dan rantai makanan. Sehingga, serangga yang menghirup asap hasil pembakaran yang mengandung dioksin akan memindahkan senyawa tersebut ke herbivora yang memangsanya sehingga kandungan dioksin akan termagnifikasi di dalam tubuh herbivora tersebut yang bisa jadi dimakan oleh manusia. 

Dioksin dapat menyebabkan masalah perkembangan dan pertumbuhan, merusak sistem imun dan mengganggu hormon, serta merupakan salah satu penyebab kanker.

Bezopirena Mengganggu Replikasi Kromosom

Bezopirena mengganggu replikasi kromosom dapat berakibat pada sel gamet (sel telur dan sperma) yang tidak normal. Menurut U.S Centers for Diseases ATSDR pada tahun 1995 melaporkan bahwa paparan akut tingkat tinggi pada manusia berasosiasi dengan penurunan sistem imun dan kerusakan sel darah merah yang berujung pada anemia. Pemaparan benzopirena pada ibu hamil meningkatkan angka kejadian kanker paru, liver, dan ovarium pada anaknya setelah dewasa dan meningkatkan potensi keguguran.

Partikulat atau Debu Halus Berbahaya Terhadap Saluran Pernapasan dan Menghalangi Jarak Pandang.

Partikulat halus ini biasanya memiliki diameter kurang dari 2,5 mikrometer (PM 2,5) sehingga tidak tersaring oleh saluran pernapasan atas (hidung) dan masuk ke paru-paru, mengurangi vitalitas paru, dan mengganggu pernapasan. 
Dan masih banyak kerugian lainnya dari membakar sampah, baik terhadap kesehatan makhluk hidup maupun terhadap lingkungan. 

Cara yang lebih baik dalam mengatasi sampah adalah dengan mempraktekkan daur ulang. Sampah sebaiknya dipisahkan menurut sifatnya, seperti organik, non-organik, dan B3. Sampah organik dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi pupuk kompos, sampah non-organik yang sebagian besar dapat didaur ulang seperti botol plastik, kertas, gelas kaca, dll dapat ditampung dan diolah untuk kemudian digunakan kembali sehingga penggunaan bahan baku dan energi menjadi lebih hemat. 

Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) juga dapat dipisahkan untuk kemudian diolah oleh pihak yang profesional sehingga tidak menimbulkan bahaya terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Limbah B3 di rumah tangga adalah seperti baterai, karena dapat menimbulkan ledakan dan leachete, bola lampu, karena mengandung logam merkuri, jarum suntik, karena kemungkinan dapat menularkan penyakit kepada orang lain.

Pengolahan sampah yang baik dapat memberikan manfaat terhadap finansial, kesehatan, dan lingkungan. Dibutuhkan kerjasama dari semua pihak sebagai pihak yang sama-sama menghasilkan sampah untuk memperbaiki sistem yang sekarang berjalan. Hal ini bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja, dan badan pemerintah sebagai lembaga yang membuat regulasi. Ketua RT misalnya, dapat membuat himbauan kepada warganya agar tidak lagi membakar sampah dan menjelaskan alasannya sehingga warga memahami mengapa mereka sebaiknya tidak melakukan hal itu. 

Oleh karena itu, marilah kita mengelola limbah rumah tangga secara bijak, agar tidak membahayakan manusia dan selalu menjaga kenyamanan lingkungan. 

Referensi: 

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon