22 September 2014

Masril Koto: Membangun Jaringan Lembaga Keuangan Mikro di Sumatera Barat

Masril Koto adalah social entrepreneur yang membidani kelahiran Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani di Sumetera Barat. Awalnya, Masril ingin membantu para petani untuk lebih memproduktifkan lahan pertaniannya. Kini, LKMA Prima Tani sudah memiliki 500 unit yang tersebar di Sumatera Barat. Masril Koto menuturkan lika-liku pembentukan LKMA Prima Tani kepada Radito Wicaksono dari SWA. Inilah wawancaranya:
Masril Koto, Pendiri Bank Tani dan Lembaga Keuangan Mikro
Bagaimana Anda mulai memberdayakan para petani di Sumatera Barat ini?

Untuk Bank Petani sendiri dimulai sekitar tahun 2007-an. Tapi semua tidak bermula dari situ saja. Usaha saya dalam memberdayakan masyarakat miskin, khususnya petani sudah dimulai sejak awal. Saya terlahir di keluarga miskin. Bapak saya hanya kuli bangunan, ibu saya bertani. Bahkan saya berhenti sekolah ketika masuk ke kelas 4 SD. Saya keluar dari sekolah karena saya kecewa dengan kebijakan yang mengharuskan siswa untuk membeli sepatu pramuka. Orang tua saya tidak punya uang, jadi saya tidak bisa beli. Untuk itu saya keluar saja.

Keluar dari sekolah saya coba untuk bantu-bantu orang tua dengan bekerja apa saja, termasuk menjadi tukang pulung. Dari hasil memulung itu, ternyata saya berhasil mengumpulkan uang. Uang dari hasil memulung itu pun lantas saya belikan mesin jahit. Saya belajar menjahit dan mulai bantu-bantu menjahit di kampung. Kebetulan kampung saya dulu banyak tempat konveksi, jadi saya bantu-bantu jahit orang-orang yang punya usaha konveksi di kampung saya. Setelah itu, saya serahkan mesin jahit ke orang tua, supaya mereka bisa ikut menjahit, tidak perlu bertani lagi. Saya bantu-bantu pasang kancing.

Apa yang menjadi pemicunya ketika itu?

Pada suatu waktu, keluarga saya termasuk saya pindah ke kampung lain, tepatnya ke Pasar Padang Luar. Di sana saya beralih profesi menjadi kuli angkut di pasar. Tapi ternyata dari kegiatan saya menjadi kuli saat itu, saya bisa bangun rumah untuk orang tua, walaupun kecil ukurannya. Tidak lama setelah itu, saya memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, saya mendapat pekerjaan di percetakan, yang kebetulan dimiliki oleh orang Agam, kampung saya. Namun, beberapa tahun kemudian, di tahun 1998, pecahlah kerusuhan yang menyebabkan banyak usaha tutup. Saya pun memutuskan untuk kembali pulang ke kampung saya.

Tiba di kampung, saya tidak memiliki pekerjaan. Daripada diam, saya menyibukkan diri di berbagai macam organisasi kepemudaan, semacam Karang Taruna. Saya ingin menggerakan pemuda di kampung saya agar lebih aktif dengan berkumpul. Ketika di Jakarta, saya melihat ada olahraga yang menggunakan bola dan dimasukan ke dalam keranjang tinggi, yang baru saya ketahu ketika itu nama olahraga tersebut adalah bola basket.

Saya bikin tempat bermain olahraga seperti itu di kampung. Dan ternyata pemuda-pemuda disini menyukainya. Pemuda di kampung saya lebih suka dengan sesuatu yang baru dan berbeda, kalau yang biasa-biasa saja mereka tidak tertarik. Maka berkumpul lah pemuda-pemuda di kampung saya itu. Dari kumpul-kumpul tersebut, kami coba bikin kegiatan yang lebih positif lagi. Kami coba bereskan kampung kami yang sebelumnya terlihat tidak begitu terawat. Ternyata, kami berhasil membereskan kampung kami, dan membuatnya menjadi lebih bersih dan nyaman. Hal ini membuahkan apresiasi dari orang-orang tua di sana.

Beres dari sana, saya memutuskan untuk kembali ke pasar, di mana saya pernah menjadi kuli di sana. Ketika itu saya baru menyadari ternyata banyak kuli di sana yang memiliki keahlian lain, selain mengangkat-angkat barang. Ada yang bisa menyetir kendaraan dan lain-lainnya. Saya pikir, kenapa mereka tidak menjadi tenaga ahli yang lain selain kuli. Ternyata, setelah saya cari tahu, mereka terbentur dengan persoalan ijazah ketika melamar pekerjaan yang lebih tinggi.

Untuk itu, karena saya bisa merasakan hal yang sama dengan mereka, karena saya sama-sama miskin dan tidak memiliki ijazah, maka saya coba bantu mereka.

Caranya bagaimana?

Caranya dengan mengumpulkan mereka dan saya bikin Sekolah Kejar Paket, bekerja sama dengan lembaga pengajaran di sana. Awalnya banyak buruh yang tertarik untuk ikut, tapi lama kelamaan semakin berkurang. Saya coba dengan cara lain, yaitu dengan menghadirkan guru-guru cantik, kuli-kuli itu pun kembali.

Di sana, saya juga menjadi siswanya. Walaupun sekolah tersebut saya yang bikin, dan saya juga ikut mengajar, saya juga menjadi murid di sana. Dan dari situlah akhirnya saya memiliki ijazah Paket A, untuk setara SMP, sama dengan kuli-kuli yang lain.

Saya kembali ke kampung dengan para pemuda di sana.Saya mencoba kembali untuk membentuk suatu kegiatan-kegiatan pemuda yang positif. Kami mencoba untuk berdagang dan lain-lain. Hasilnya pun ternyata tidak terlalu baik. Akhirnya, saya punya ide untuk bikin ruko bersama teman-teman. Modalnya hanya dari minta keringanan kebijakan ke toko material untuk memperkenankan mereka membeli bahan material dengan cara bayar mundur. Ruko selesai dan ada yang menyewa, baru kami bayar ke material.

Dari sana, saya dan rekan-rekan diberi penghargaan sebagai pemuda yang berprestasi. Kami diberikan hadiah komputer dari Dinas Pendidikan Sumatera Barat berkat hasil kerja keras kami. Awalnya, pemuda-pemuda di kampung belajar menggunakan komputer tersebut. Hingga akhirnya kami semua bisa menggunakan komputer tersebut. Bahkan kami juga menerbitkan sebuah buletin kampung yang nantinya dikirim ke beberapa orang kampung kami yang sedang merantau.

Atas keberhasilan tersebut, kami pun dipercaya untuk menjadi pengurus pasar di lingkungan kami. Kami diangkat menjadi pengurus pasar atas persetujuan warga, tokoh masyarakat, para perantau, dan beberapa pengurus pasar yang lama. Ternyata banyak bagian di pasar termasuk manajemennya yang perlu dibenahi. Saya coba keliling pasar-pasar di seluruh Sumatera Barat.

Beberapa waktu setelah itu, saya memutuskan untuk berhenti dari pasar. Hal tersebut diperkuat karena saya menikah dengan wanita pujaan saya. Setelah menikah, karena sesuai adat, saya harus ikut keluarga wanita. Maka saya hijrah ke keluarga istri saya di Baso. Baso ini terkenal sebagai kecamatan penghasil pisang di Sumatera Barat.

Namun ketika itu hampir seluruh ladang pisang di sana mengalami musibah. Pohon-pohon pisang di sana terserang penyakit yang mengakibatkan pohon tersebut menjadi mati. Alhasil, banyak lahan di sana yang terbengkalai, tidak ditanami apa-apa. Petani di sana pun bingung untuk mengembangkan ladang mereka. Akhirnya tak jarang dari mereka yang menjadi buruh tani di lahan orang lain.

Semenjak saya berada di Baso, saya lebih memilih untuk menanam jahe dan ubi jalar.Awalnya kegiatan saya tersebut dianggap hal yang aneh oleh orang-orang di sana. Namun, karena musibah yang menimpa landang pisang mereka, akhirnya mereka pun turut menanam jahe dan ubi jalar di ladang mereka.

Ternyata setelah itu, banyak petani di Baso yang beralih untuk bertanam ubi jalar, karena ubi jalar lebih mudah ketimbang pisang dan jahe. Ubi jalar yang dihasilkan di kampung kami itupun ternyata cukup baik. Pemerintah pun melihat hal tersebut dan lantas memberikan pelatihan kepada para petani di kampung kami bagaimana cara menanam ubi jalar.

Ketika sedang bertani tersebut, saya sering bertemu dan berkomunikasi dengan petani-petani lainnya. Dari hasil diskusi tersebut, saya mendapatkan keluhan-keluhan yang sama di antara petani-petani tersebut. Mereka selalu mengeluhkan permasalahan tentang modal. Mereka ingin memperluas kebun mereka dan meningkatkan hasil panen mereka, namun terkendala di urusan modal.

Saya coba bantu bikin koperasi, namun ditolak mereka karena sebagian besar dari mereka sudah tidak percaya lagi dengan koperasi. Mereka menganggap koperasi hanya menguntungkan para pengurusnya saja. Hanya ketua, wakil, sekretaris, dan bendahara saja yang akan mendapatkan keuntungan.

Saya coba pikir-pikir lagi, apa yang bisa bikin para petani percaya dengan lembaga-lembaga semacam itu. Saya terpikir untuk membangun sebuah bank khusus bagi petani. Alasannya karena banyak petani yang percaya dengan sistem bank, namun mereka tidak berani ke bank. Bagi mereka, bank hanya diperuntukan bagi orang-orang yang rapi saja. Ditambah lagi, mereka tidak ingin menemukan ketentuan-ketentuan yang rumit dari bank.

Dari situ, saya bertekad untuk membuat bank. Langkah awal, saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya bagaimana cara untuk membuat bank. Saya pergi ke berbagai macam bank yang ada di Sumatera Barat. Saya datang ke berbagai macam seminar tentang perbankan. Padahal ketika itu saya tidak memiliki biaya yang banyak untuk mencari informasi mengenai perbankan ini. Benar-benar saat itu saya dan beberapa rekan-rekan saya, hanya bermodalkan semangat.

Pengalaman-pengalaman buruk sempat saya temui. Mulai dari kondisi perjalanan ke kota yang cukup jauh dan sulit, kehabisan uang, kena tilang, hingga dibohongi oleh pihak dari salah satu bank. Namun, semua terbayarkan ketika saya bertemu dengan orang dari Bank Indonesia di sebuah seminar yang diadakan oleh Bank Indonesia. Saya bertemu dengan Pak Yiyuk Herlambang, beliau banyak kasih bantuan informasi ke saya bagaiamana cara membuat bank. Selain itu, ada Pak Joni dari Dinas Pertanian Sumatera Barat yang turut membantu saya membentuk sebuah bank tani. Dari situlah akhirnya terbentuk sebuah lembaga keuangan bagi para petani di kampung kami.

Kami semua coba mengembangkan lembaga keuangan ini. Hingga akhirnya keluarlah sistem saham di lembaga keuangan kami tersebut. Bahkan, ketika awal, banyak saham yang terjual, hingga menyentuh angka Rp 15.000.000. Ketika itu harga saham per lembarnya adalah Rp 100.000. Meski begitu, ada beberapa petani yang membeli saham tersebut dengan cara menyicil. Hingga lama-kelamaan, secara resmi lembaga keuangan ini berdiri.

Pola kegiatan apa yang dipilih bagaimana pola pemberdayaan masyarakatnya?

Walaupun apa yang saya dan kawan-kawan bentuk ini bernama lembaga keuangan, namun secara prakteknya, lembaga ini lebih tepat disebut sebagai bank. Hanya karena terbentur oleh ketentuan dari Bank Indonesia bahwa untuk membentuk sebuah bank harus ada data di Bank Indonesia, maka lembaga ini pun dinamakan menjadi Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani. Lembaga ini pun sahamnya dimiliki oleh para petani di sana. Yang mengelolanya adalah anak-anak muda, di mana sebagian besar dari anak muda tersebut adalah putra-putri dari petani di sana.

Di bank tani ini, ada beragam produk tabungan atau pinjaman yang berbasis sesuai dengan kebutuhan langsung para petani secara spesifik, seperti tabungan ibu hamil, tabungan pajak motor untuk pengojek, dan tabungan pendidikan anak, tabungan untuk persiapan pernikahan, dan lain-lain.

Sistem control yang diterapkan oleh LKMA ini cukup unik, karena disesuaikan dengan kearifan lokal yang ada di daerah LKMA masing-masing. Ada yang menggunakan Dato atau orang yang dituakan di kampung untuk dijadikan jaminan, hingga ada yang menerapkan pengumuman di masjid dan seluruh kampung bagi mereka yang melanggar perjanjian dengan LKMA. Alhamdulillah, sampai sajauh ini belum ada permasalahan dalam hal kontrol pinjaman dari LKMA.

Bagaimana liku-liku pemberdayaan?  Tantangan apa saja yang dihadapi saat melakukan pemberdayaan? 

Ada beberapa hal yang cukup sulit bagi saya dalam mengembangkan LKMA ini. Pertama, adalah kondisi saya ketika itu. Saya sudah punya keluarga ketika itu. Kondisi keluarga terutama perekonomian keluarga harus saya pikirkan. Saat itu, kondisi ekonomi saya dan keluarga tidak bisa dibilang baik, bahkan bisa dikatakan sedang goyah. Kemudian, saya harus bisa membagi waktu dengan keluarga. Tapi saya selalu berusaha untuk meyakinkan istri saya terutama, untuk bisa bersabar.

Hal sulit berikutnya adalah, meyakinkan para petani agar percaya dengan lembaga keuangan semacam ini. Tidak gampang meyakinkan orang Minang. Ada yang harus pakai berkelahi dulu, ada yang saling curiga. Tapi, lagi-lagi, saya coba untuk sabar. Saya berusaha untuk meyakinkan mereka lebih dalam lagi dan akhirnya mereka pun percaya terhadap lembaga keuangan ini.

Kemudian hal sulit lainnya adalah pekerjaan ini pekerjaan yang penuh rjsiko. Saya pergi ke mana-mana naik motor. Padahal jarak antar satu daerah ke daerah lainnya di sini cukup jauh dan menantang. Tapi, lagi-lagi, kembali ke awal, saya harus bersabar dalam menghadapi ini semua. Tidak cepat menyerah, maka hasilnya pun akan sesuai dengan yang diharapkan.

Hasilnya seperti apa, terutama jika dibandingkan dengan kondisi pada saat kegiatan ini dimulai dan kondisi saat ini? Kemajuan apa saja yang telah diperoleh?

Dulu, banyak lahan yang tidak tergarap oleh para petani di sini. Bahkan ada beberapa bagian yang cenderung terbengkalai. Namun sekarang, hampir semua lahan di sini digunakan untuk bertani.

Petani-petani di sini pun saat ini sudah merasakan keuntungan dengan menggunakan fasilitas-fasilitas di bank tani ini. Setiap petani sekarang sudah bisa mengembangkan lahan yang mereka garap. Selain itu, anak-anak muda di kampung-kampung, sekarang ini menjadi lebih aktif dengan bekerja di LKMA. Mereka pun bekerja layaknya para pekerja bank, dengan pakaian rapi.

Saat ini LKMA Prima Tani sudah memiliki 550 unit di seluruh wilayah Sumatera Barat, dengan total aset mencapai Rp 250 miliar. Seluruh unit LKMA telah mempekerjakan 1.500 anak-anak petani di kampung-kampung di Sumatera Barat. Mereka tidak memiliki sistem gaji dalam bekerja di sana. Namun, setelah 6 bulan bekerja, mereka bisa menentukan gaji mereka sendiri. Caranya? Dengan mencari nasabah sebanyak-banyaknya.

Apa target dan rencana ke depan untuk semakin meningkatkan pemberdayaan ini?

Saya menargetkan unit LKMA bertambah, setidaknya di wilayah Sumatera Barat. Yang saat ini ada 550 unit, saya ingin menjadi 1.100 unit. Saya juga menargetkan para petani dan unit di sini menjadi naik tingkat menjadi lebih besar. Dengan cara membentuk sebuah konsorsium yang sahamnya berasal dari unit-unit LKMA di berbagai daerah di Sumatera Barat.

Saya juga ingin memiliki jasa keuangan di sektor riil, terutama dengan membuat sebuah “Bulog” sendiri. Kemudian, kami ingin punya perusahaan sawah. Dengan jasa keuangan ini pula, kami ingin menjadi fasilitator pinjaman ke pihak-pihak ketiga. Saya juga ingin mengadakan produk asuransi dalam jasa keuangan ini. Intinya, saya ingin semua sawah dan ladang di sini, yang tidak tergarap menjadi tergarap.

Belum lagi beberapa rencana CSR kami yang mengarah ke bidang pendidikan petani. Kami ingin meningkatkan kapasitas para pemilik dan pengelola LKMA dengan mengadakan pelatihan-pelatihan rutin untuk meningkatkan kapasitas mereka.

Seperti apa governance dari kegiatan ini?  Bagaimana bentuk pertanggungjawaban dari dana-dana yang masuk?  Bagaimana laporan keuangan kegiatan ini?  Siapa yang mengontrol?

Semua yang mengelola LKMA ini adalah anak-anak petani, di mana orang tua mereka justru menjadi pemilik saham di sana. Jadi mereka bertanggung jawab kepada pemilik saham yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua mereka sendiri. Layaknya perusahaan-perusahaan pada umumnya, di sini pun ada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). (Didin Abidin Mas’ud)

Sumber: www.swa.co.id

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon