1 November 2014

Aleh hai Luha, Ba hai Teungku

Syaribanun mendengar sebuah kalimat manis di televisi. "Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak pernah surut, baik melalui jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah". Ada seorang pejabat yang mengucapkan kata itu untuk sebuah acara seremonial.

Wanita itu tak mengerti benar di mana acara itu berlangsung. Tapi kalimat tadi terus membekas di hatinya.

Jen- jen jok datang tak lama setelah Syaribanun "merekam" kalimat tersebut. Di televisi masih berlangsung acara warta berita yang menampilkan berbagai kegiatan berikut ucapan-ucapannya. Dia teringat kepada karibnya Bapak Kepala yang juga sering melontarkan kata-kata itu bila memberi pengarahan kepada anak buahnya. Atau Jen- jen jok ingat betul bagaimana dengan safari warna abu-abu tua Bapak Kepala berdiri di depan para hadirin. Penuh wibawa seorang pemimpin.

Atau di kesempatan lain ketika Bapak Kepala seolah memperoyeksikan diri sebagai Bapak Atasan dengan ungkapan-ungkapannya yang penuh wejangan. "Marilah kita meningkat rasa persatuan dan kesatuan melalui penerapan dan pelaksanaan Kadarkum dalam rangka menuju tinggal landas dan menyongsong sidang umum," kata Bapak Kepala ketika itu. Televisi lokal pun menyiarkan acara Kadarkum itu, karena Bapak Kepala mewakili atasannya, sekaligus membaca pidato tertulis.

Kepada jen- jen jok Bapak Kepala kemudian mengakui kalau apa yang diucapkan itu sebenarnya tak dia mengerti dengan jelas. Dia cuma membaca, sedangkan yang tulis adalah orang lain. Dia tak bisa juga paham apa hubungannya antara Kadarkum dengan tinggal landas. Apa pula hubungan tinggal landas dengan sidang umum. "Pokoknya saya tinggal baca karena karena Bapak Atasan berhalangan hadir," katanya menjelaskan kepada Jen- jen jok. "Yang paling penting," kata Jen- jen jok menyarankan, "jangan sekali-sekali lupa mengirim salam Bapak Atasan, dengan menyebutkan sebenarnya beliau berkeinginan hadir, tapi berhubung....."

Bapak Kepala tertawa mendengar ta'limat Jen- jen jok yang seolah- olah paling tahu tradisi birokrasi. Termasuk tradisi seorang pejabat pengganti alias pejabat pembaca kata sambutan yang selalu tidak lupa dengan kalimat sterotip "Sebenarnya beliau berkeinginan untuk hadi, Tapi......". Perkara ada atau tidaknya Bapak Atasa kirim salam kepada hadirin, itu soal lain. Yang penting harus begitu. Kalau tidak dia akan kena tegur. Sebab, biasanya walau telah mengirim wakil resmi untuk membacakan sambutannya, Bapak Atasan juga tak lupa mengirim mata-mata untuk mengamati bagaimana tingkah laku orang yang mewakilinya: Apakah ada kreueh bhan keue ngon bhan likot? Kreueh bhan keue ngon bhan likot adalah sebuah kalimat sindiran yang muncul di masa kini sesuai dengan konteks kekinian. 

Sedangkan di masa lalu, berbagai ungkapan digunakan untuk menyindir seseorang sesuai dengan konteks masa itu. "Takheuen bangai ok teukoh, takheuen bodoh sikula pih na." Bila sesorang didapati keliru karena kebodohannya maka ungkapan yang artinya: Dibilang dungu rambut terpangkas, dibilang bodoh sekolah pun ada, menjadi sindirin tepat. Ungkapan itu tentu sesuai konteks zamannnya. Dulu, lelaki yang memangkas rambutnya cukup langka. Hanya orang-orang terpelajar dan telah maju saja yang berpangkas rambut. Selebihnya, ya dicukur.

Demikian juga dengan soal sekolah. Amat jarang orang tua di kampung yang pernah mengenyam sekolah pada tingkat yang memadai. Apalagi yang sempat mendapat didikan di Mulo --sebuah sekolah menengah masa Belanda. Tapi meski tidak sekolah, jangan kira orang-orang tua itu buta huruf --atau bahasa sekarang disebut buta aksara. Rata-rata orang zaman bisa membaca dengan lancar dan sekaligus bisa berkomunikasi dengan orang luar dengan menggunakan bahasa Melayu. Pengajian kitab Jawo yaitu tulisan Arab bahasa Melayu telah memung- kinkan orang Aceh pandai membaca plus berbahasa Melayu alias bahasa Indonesia. Hanya yang tidak pernah mengaji saja yang tidak memiliki kemampuan tersebut.

Seorang teman Jen- jen jok di masa kecil, Luha namanya. Pria ini sama sekali tidak bisa bahasa Melayu dan membaca kitab Jawo. Dia dulu tergolong yang malas mengaji. Untuk mengeja huruf-huruf Arab dalam kitab Mukaddam saja, Luha tak mampu. Telah tiga buah Muhaddam sempat lusuh, Luha belum juga bila membaca alif ba ta sa. Apalagi kalau disuruh membca rangkaikan ba ateueh bareh ba, ba di yup bareh bi, ba kiwieng bareh bu. Dia bisa menghafal kata-kata itu, tapi mana yang ba, dia tak tahu.

Sebagai seorang teman, Jen-jen jok memperlakukan Luha dengan baik, berbeda dengan beberapa teman lain yang seolah mengucilkannya. Maka kepada Jen- jen jok pula Luha menyampaikan isi hatinya. Dia berpendapat, untuk apa mengaji tinggi-tinggi karena orang alim sudah ramai. Kenapa harus sekolah karena guru dan kerani telah penuh kantor.

Tapi Luha tak bisa menjawab ketika Jen- jen jok mengajukan pertanyaan, kepada dia harus kawin karena suami telah banyak. Dia cuma terkekeh-kekeh sambil menyebut nama seorang anak perempuan yang dia gilai selama ini.

Memang Luha adalah satu di antara lelaki yang tak mengerti bahasa Melayu dan tak bisa membaca kitab Jawo. Sekolah dan mengaji adalah dua hal yang tidak menarik baginya. Malah dia menganggap pergi mengaji ke rumah Teungku sebuah keterpaksaan karena disuruh orangtuanya. Jen- jen jok mencoba menyadari Luha, tetapi sahabatnya itu tetap pada prinsipnya. "Coba Luha baca ba ateueh bareh ba, ba di yup bareh bi, ba kiwieng bareh bu. Ba bi bu....," tuntunnya. Dengan cukup sigap Luha pun menjawab: Ba bi bu, soe nyang ba po nyan bi bu..."

Pernah suatu malam dalam pengajian di rumah Teungku, Luha diajarkan mengenal alif --yang dalam lafal Aceh dieja dengan aleh. Sang Teungku memegang tangan anak lelaki itu sambil mengarahkan lidi di tangan sebagai alat penunjuk huruf-- ke huruf alif. "Aleh hai Luha," kata

Teungku meminta dia mengulangi kata-katanya. "Ba hai Teungku," jawab Luha. Dan merasa dipermainkan, Teungku berucap: "Kacok alee kuneuk poh Si Luha...." Lalu: "Kacok nuga kuneuek poh Teungku," jawab sang murid.

Setelah itu Luha tak pernah lagi hadir di pengajian. Syaribanun mendengar cerita suaminya perilhal Luha. Dia teringat kalimat-kalimat seorang di televisi tadi. "Upaya untuk mencerdaskan

kehidupan bangsa tidak pernah surut, baik melalui jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah." Juga kisah Bapak Kepala yang membaca pidato tertulis Bapak Atasan. Dia membayangkan seorang Luha. dengan rangkaian kalimat: Aleh hai Luha, ba hai Teungku.

Disadur dari blog Barlian AW

Artikel Terkait