31 Mei 2014

Sejaran Gampong Riseh Tunong

Pada awal mulanya kawasan hutan datar berbukit yang kini bernama Gampong Riseh Tunong masuk dalam wilayah Kerajaan Pasai. Menurut sejarahnya, kemudian Kerajaan Pasai diajak untuk menyatukan diri dengan Kesultanan Aceh yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam, Banda Aceh sekarang.

Menurut sumber pertama, sekitar tahun 1891-1896 sekelompok kaum muslimin (ulama perang fisabilillah dari kerajaan Kesultanan Aceh) singah di Pucok Krueng Pagah dalam misi gerilya melawan pasukan belanda. Mereka berangkat dari Atjeh Rayeuk bersama tiga pasukannya. Menurut riwayat rombongan yang pertama singgah di Nanggroe Peusangan dan dipimpin oleh Tgk. Malem Puteh yang dikalangan masyarakat lebih populer dengan sebutan Tgk Lambaet. 

Dipanggil Tgk Lambaet karena beliau berasal dari Lambaet, Atjeh Rayeuk (Aceh Besar sekarang) yang terletak di kawasan Krueng Kalee, lewat Darussalam menuju Blang Bintang. Sementara rombongan kedua menuju ke arah Nanggroe Keureutoe (Lhokseukon, sekarang) untuk bergabung dengan Tgk Syik Di Tunong, suami dari Cut Meutia. Sedangkan rombongan ketiga terlebih dahulu singah di Nanggroe Meureudu bergabung dengan Tgk. Muhammad Jailuddin yang terkenal dengan Tgk Ja Pakeh.

Pada suatu malam, Tgk. Malem Puteh atau Tgk. Lambaet mendapatkan firasat bahwa salah seorang sahabatnya dari rombongan muslimin yang singah di Pucok Krueng Pagah, kawasannya datar dan berbukit-bukit memerlukan bantuannya. Mendapatkan firasat tersebut, pada esok harinya bersama rombongan Tgk. Lambaet berangkat dari Nanggroe Peusangan untuk mencari daerah tersebut.

Menurut riwayat, dalam perjalannya mencari Pujok Krueng di Pangah, Tgk Lambaet sempat singah dan bermalam di Babah Krueng. Untuk sampai ke tujuan Tgk Lambaet bersama rombongan harus berputar-putar (Aceh: lise-lise) diatas bukit dengan hutan lebat yang di tumbuhi oleh pohon Riseh, dan kemudian Tgk Lambaet memberikan nama daerah hutan tersebut dengan Riseh. 

Beberapa kaum muslimin yang termashur namanya sampai sekarang antara lain; Teungku Di Lambayong, Teungku Di Lhok Drien, Teungku Di Guha Rimueng, Teungku Di Blang Riseh, dan Tgk. Lamkubu, dll

Pada hari Jumat tanggal 10 Oktober tahun 1904 oleh para penghulu rakyat yang menetap di hutan Riseh bermufakat dan membagi wilayah Riseh dalam tiga Seuneubok yaitu; Seunebok Baroh, Seneubok Teungoh dan Seunebok Tunong dan masing-masing Seuneubok memilih seorang yang dipertuakan sebagai pemimpin, masing-masing sebagai berikut:
  1. Seunebok Tunong yang menjadi Petua adalah Ben Hasan Ali
  2. Seunebok Teungoh yang menjadi Petua adalah Keuchik Ibrahim
  3. Seuneubok Baroh yang menjadi Petua adalah Marhaban Banta
Sejarah Jepang Masuk Riseh

Menurut kisah orang tua terdahulu, Jepang pertaman masuk ke Riseh sekitar tahun 1943 setelah pecah perang di Cot Plieng, Lhokseumawe pada tahun 1942. Kedatangan serdadu Jepang ke Riseh dalam misi mencari para pejuang Aceh saat itu yang bersembunyi (Dalam bahasa Aceh: geujak meusom siat) di Pujok Krueng Pagah dan serdadu Jepang sempat menetap beberapa malam di dekat Krueng Lambayong (seputaran titi gantung jalan menuju ke Dusun Cot Calang sekarang).

Sejarah Riseh Bergabung dengan NKRI

Sesudah Indonesia diproklamirkan sebagai Negara Merdeka, Aceh Utara disebut Luhak yang dikepalai oleh seorang Kepala Luhak sampai dengan tahun 1949. Melalui Konfrensi Meja Bundar, pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk Negara Republik Indonesia Serikat yang terdiri dari beberapa negara bagian. Salah satunya adalah Negara Bagian Sumatera Timur. Tokoh-tokoh Aceh saat itu tidak mengakui dan tidak tunduk pada RIS tetapi tetap tunduk pada Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia Serikat kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berlaku Undang Undang Sementara 1950 seluruh negara bagian bergabung dan statusnya berubah menjadi propinsi. Aceh yang pada saat itu bukan negara bagian, digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. Dengan Undang Undang Darurat Nomor 7 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom setingkat Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara, terbentuklah Daerah Tingkat II Aceh Utara yang juga termasuk dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara.

Keberadaan Aceh di bawah Propinsi Sumatera Utara menimbulkan rasa tidak puas pada para tokoh Aceh yang menuntut agar Aceh tetap berdiri sendiri sebagai propinsi dan tidak berada di bawah Sumatera Utara. Tetapi ide ini kurang didukung oleh sebagian masyarakat Aceh terutama yang berada di luar Aceh.

Keadaan ini menimbulkan kemarahan tokoh Aceh dan memicu terjadinya pemberontakan DIMI pada tahun 1953. Pemberontakan ini baru padam setelah datang Wakil Perdana Menteri Mr Hardi ke Aceh yang dikenal dengan Missi Hardi dan kemudian menghasilkan Daerah Istimewa Aceh. Dengan Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor I/ Missi / 1957, lahirlah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dengan sendirinya Kabupaten Aceh Utara masuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Berdasarkan Undang Undang Nomor I tahun 1957 dan Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 1959.

Dengan sendirinya Kabupaten Aceh Utara masuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Berdasarkan Undang Undang Nomor I tahun 1957 dan Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 1959. 

Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara terbagi dalam 3 (tiga) Kewedanaan yaitu :
1. Kewedanaan Bireuen terdiri atas 7 kecamatan 
2. Kewedanan Lhokseumawe terdiri atas 8 Kecamatan
3. Kewedanaan Lhoksukon terdiri atas 8 kecamatan

Dua tahun kemudian keluar Undang Undang Nomor 18 tahun 1959 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Berdasarkan UU tersebut wilayah kewedanaan dihapuskan dan wilayah kecamatan langsung di bawah Kabupaten Daerah Tingkat II. Dengan semakin berkembangnya Kabupaten Aceh Utara nama Seunebok Tunong, Teungoh dan Baroh berubah nama menjadi gampong yang disebut Gampong Riseh. Pada saat itu Gampong Riseh masuk dalam wilayah Kecamatan Muara Batu (Krueng Mane) dengan jarah tempuh 27 KM. 

Setelah Kecamatan Sawang terbentuk Gampong Riseh di mekarkan menjadi tiga Gampong yaitu Gampong Riseh Tunong, Gampong Riseh Teungoh dan Gampong Riseh Baroh yang di usulkan oleh Geuchik Hasan Ali (geuchik Riseh).

Pada awal terbentuk Gampong Riseh Tunong tidak memiliki dusun. Namun seiring perjalanan waktu dan perkembangan jumlah penduduk yang semakin banyak, kemudian dibentuklah dusun-dusun yaitu dusun Lambayong (pusat administrasi gampong/desa), dusun Lhok Drien Barat, Dusun Blang Ranto, Dusun Cot Calang, dusun Lhok Baro, dan yang terakhir terbentuk yaitu dusun Damar Buleun.

Sejarah Kepemimpinan Gampong Riseh Tunong dari Masa ke Masa

Gampong Riseh Tunong dipimpin pertama kali oleh Alm. Keuchik Muhammad Hasan (Abu Keuchiek Hasan), kedua Alm. Keuchiek Muhammad (Keuchik Ahmad), ketiga Geuchik Syamaun (Pj).

Keempat Alm. Geuchik Abdullah Matsyah (Keuchik Lah), kelima Alm. Tgk. Keuchik A. Rahman Syah (Keuchik Do). Keenam adalah Geuchik Buchari Haji Budiman (Keuchik Riseh Tunong Sekarang).

Menurut referensi dari berbagai sumber, keuchik pertama Gampong Riseh Tunong, almarhum Abu Keuchik Muhammad Hasan (Abu Chiek Hasan) berasal dari keturunan Teungku Kuha di Gunong keturunan dari Teungku Cot Pakeh (kuburannya berada di dekat sugai Ara Lipeh, Kecamatan Peusangan). Sementara Teungku Cot Pakeh bersaudara dengan Teungku Kuha di Samuti, Kecamatan Gandapura Kabupaten Bireuen.

Mayoritas masyarakat Gampong Riseh Tunong Kecamatan Sawang Aceh Utara adalah petani dengan mata pecaharian utama; padi, pinang, coklat (kakao), kemiri, dan durian (boh drien).

Begitulah sepenggal sejarah Gampong Riseh Tunong Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara, yang kami himpun dari berbagai sumber baik dari referensi tertulis maupun dari wawancara dengan orang tua-tua gampong. Wallahu A'lam Bishawab.


*****Bilamana ada pihak-pihak yang keberatan atau ingin menyanggahnya dengan senang hati kami menerimanya dan silahkan kirim masukan ke alamat email: info.risehtunong@mail.com.

Artikel Terkait

This Is The Oldest Page