28 Agt 2014

Internet Masuk Gampong, Tingkat Malek Teknologi Meningkat

GampongRT - Internet masa kini telah menjadi kebutuhan bagi sebagian masyarakat Indonesia baik di kota maupun di desa (kampung/gampong). Walaupun dalam segi perkembangan teknologinya, masyarakat kota lebih maju dibandingkan masyarakat desa. 

Yang pasti masyarakat gampong (desa), terutama anak-anak muda sudah banyak yang tidak lagi gabtek alias buta teknologi atau gagab teknologi. Buktinya, banyak anak-anak desa atau anak kampung yang sudah menggunakan situs jejaring sosial, seperti facebook, twitter, google plus+, linkedIn, instagram, dan lain-lain. 


Kemajuan teknologi, "seperti wabah" membuat banyak masyarakat menjadi kecanduan dengan jenjaring sosial baik tua maupun muda. Siapa saja bisa dengan sangat mudah berbagi informasi, berbagi foto, berbagi kegalauan bahkan saling pamer narsis. "Banyak orang sampai mau tidurpun ditulis di jenjaring sosial"


Berdasarkan hasil survey http://www.internetworldstats.com, pengguna internet di Indonesia tumbuh lebih 1.000 persen dalam 10 tahun terakhir. Namun, pertumbuhan ini, bila dibandingkan dengan total penduduk Indonesia yang mencapai 237,5 juta jiwa, jumlah pengguna internet di Indonesia masih relatif kecil atau hanya sekitar 10 persennya saja. Padahal di Negara Asia lainnya penggunaan internet mencapai 20 persen dari jumlah penduduknya.


Sementara di Aceh, biarpun belum ada lembaga resmi yang melakukan survey pengguna internet. Namun tingkat malek teknologi dapat dipastikan semaking meningkat di semua kabupaten/kota di provinsi Aceh. 


Bagi yang menggunakan hand phone untuk akses internet, tentu memerlukan daya batrai Hp yang cukup, agar bisa tetap terhubung dengan internet sepanjang waktu. "Apalagi kondisi listrik kita diseluruh Aceh, "sering mati hidup-hidup mati". 


Anak desa, agar bisa terhubung ke internet sepanjang waktu, tinggal kita membeli alat cerdas penyimpan arus yang bisa kita bawa kemana saja, namanya "powerbank". Alat ini bisa membatu kita, agar hand phone bisa selalu aktif. 


Mengutip situs www.jppn.com. Powerbank seperti sudah menjadi barang wajib bagi pemilik ponsel masa kini. Tak heran jika sekarang di pasaran banyak sekali tersedia powerbank ratusan merk dan berbagai kapasitas. Problemnya kapasitas powerbank ini tidak mudah diukur. Jadi bisa saja pabrikan menuliskan kapasitas 10.400 mAh padahal di dalamnya hanya 5200 mAh. Adapula yang kapasitasnya sama, tetapi harganya terpaut sangat jauh. 


Merek-merek powerbank terkenal juga kadang dipalsu. Beberapa web dari merek-merek terkenal memberikan informasi bagaimana membedakan powerbank yang asli dan palsu, biasanya dilengkapi dengan berbagai foto untuk kita lebih aware. 


Berikut informasi yang bisa dijadikan panduan untuk membeli powerbank: 


1. Sebisa mungkin belilah powerbank dengan merek yang Anda sudah kenal punya reputasi baik di bidang baterai atau peralatan listrik/elektronik. Atau untuk merek-merek yang tidak Anda kenal, coba tanya kepada rekan yang pernah memakainya. Biasanya opini mereka adalah hasil dari pemakaian, yang lebih tepat. Apalagi jika powerbank tersebut sudah dipakai lama dan tetap baik. Informasi ini terkadang ada di internet yang bisa Anda baca di forum-forum atau blog, lewat mesin pencari seperti google


2. Sebisa mungkin beli powerbank di tempat yang memang authorized dari merek tersebut. Atau setidaknya mendapat jaminan dari penjualnya. Kebanyakan penjual tahu kualitas barang yang mereka jual 


3. Biasanya powerbank yang baik mencantumkan baterai apa yang digunakan di dalamnya. Biasanya merek baterai di dalam yang digunakan merek-merek bagus dibuat pabrikan besar seperti Samsung, Sanyo dll. 


4. Powerbank yang baik, biasanya berani memberikan garansi, minimal 6 bulan. Ada yang memberikan garansi 1 tahun. Tanyakan kepastian kalau klaim garansi harus ke mana. Jika tempat Anda beli berani memberikan jaminan untuk membawa barang yang defect atau rusak kembali ke mereka untuk membantu garansi, itu lebih baik. Powerbank yang memberikan garansi hanya 1 bulan bahkan kurang, sebaiknya lupakan saja. Berarti kemungkinan besar kualitasnya harus dipertanyakan. 


5. Harga. Ini masalah krusial yang membuat banyak orang membeli powerbank yang salah. Kalau di pasaran misalkan harga powerbank dengan kapasitas 10.400 mAh rata-rata Rp 400 ribu, ketika ada powerbank dengan kapasitas yang sama tetapi berharga hanya setengahnya, berhati-hatilah, mungkin kapasitasnya tidak benar, mungkin juga sistem keamanannya tidak terjamin. 


6. Powerbank bukan barang dengan bobot ringan. Kebanyakan orang ingin powerbank sekecil mungkin tapi dengan kapasitas sebesar mungkin. Ini too good to be true. Kalau rata-rata powerbank dengan kapasitas 10.400 mAh ukurannya cukup besar dan berat, tiba-tiba ada powerbank dengan kapasitas sama yang ukurannya menjadi setengahnya dan lebih ringan jauh, patut dipertanyakan. Baterai itu seperti botol air. Untuk kapasitas air yang lebih banyak, botolnya harus lebih besar. 


Penggunaan baterai Lithium Polymer bisa membuat powerbank lebih tipis, tetapi tidak sampai terlalu jauh ukurannya dari segi fisik. Bahkan untuk mengelabui pembeli, seringkali ada powerbank yang isi baterainya sedikit, tetapi bobotnya besar dan berat karena diisi pasir. 


Mengacu kepada garansi, bisa meminimalisir mendapatkan barang bodong ini, karena biasanya barang bodong tidak bergaransi. (dtc/fia)

Artikel Terkait