7 Sep 2014

Pariwisata Aceh Utara Sulit Berkembang

Kendati Pemerintah Aceh setiap tahun mencanangkan Visit Aceh Years, namun tidak terimplementasi dilapangan, sifatnya hanya slogan belaka tanpa ada kegiatan yang konkrit untuk mendukung peningkatan pariwisata di provinsi paling ujung pulau sumatera itu.

Padahal, Aceh Utara memiliki potensi wisata cukup luar biasa, layaknya seperti didaerah-daerah lain di Indonesia, hanya saja di daerah luar Aceh potensi wisata dikelola dengan baik sehingga bisa menghasilkan uang dan masyarakat sekitar lokasi obyek wisata juga mendapat manfaatkan secara ekonomi dan finansial.


Berbeda di Aceh secara umum banyak obyek wisata dibiarkan begitu saja tanpa dikelola dengan baik, padahal Aceh juga memiliki puncak dengan obyek danau laut tawarnya di Aceh Tengah, ada juga tempat pemandian air panas di Kabupaten Bener Meriah.


Jika wisatawan ingin berkunjung ditempat obyek sejarah, Aceh Utara memiliki obyek sejarah Islam yang paling monumental yakni makam kerajaan Malikussaleh yang menyebarkan Islam pertama kali yang terletak di Desa Kuta Krueng Kecamatan Samudera Aceh Utara, begitu juga ada makam Ratu Nakhrisyah.


Kalau ingin melihat pahlawan nasional yang gagah perkasa di Aceh Utara tepatnya di Kecamatan Matangkuli ada peninggalan rumah pahlawan Nasional Cut Meutia dan juga makamnya di Kecamatan Pirak Timu.


Namun semuanya itu hanya sebutan saja tanpa dikelola dengan baik. “Buktinya obyek-obyek wisata yang bisa menghasilkan uang itu, justru saat ini tidak dikelola dengan baik,  obyek wisata tersebut  malah menjadi tempat sapi-sapi untuk mencari makan, akibatnya obyek wisata itu banyak kotoran sapi,” kata salah seorang pemerhati wisata Aceh Utara Drs HM Diah Sulaiman.


Seharusnya, tambah M Diah, jika Aceh ingin mendapat perhatian dan kunjungan wisatawan, obyek-obyek wisata itu harus dikelola dengan baik. “Pemerintah Aceh harus pro aktif melakukan pembenahan disemua obyek wisata termasuk akses jalan menuju lokasi itu.


“Bayangkan obyek wisata di dataran tinggi Gayo yakni danau laut tawar yang tampak begitu indah, namun akses jalan kupak-kapik, terutama melalui pintu masuk menuju kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah,tampak jalan masih amburadul, jangankan orang luar Aceh, orang Aceh sendiri enggan berwisata ke danau laut tawar, karena tidak didukung dengan berbagai sarana pendukung lainnya,” jelasnya.


Sebenarnya, papar M Diah kalau di danau toba ada istilah festival danau toba, seharusnya di Aceh juga ada festival danau laut tawar, apalagi disamping obyek wisata danau ada destinasi lain yang bisa memanjakan pengunjung yakni lomba pacuan kuda. “Namun peluang itu justru tidak berkembang sebagaimana mestinya, alhasil wisata Aceh sulit berkembang,” tuturnya.


Disisi lain, urainya, saat ini Aceh sudah menjalankan Syari’at Islam, seyogyanya akan menjadi daya tarik tersendiri. “Islam bisa menawarkan obyek wisata yang menarik, karena Islam juga cinta dengan keindahan, tentunya konsepnya harus wisata religious, sehingga kita memiliki ciri tersendiri, selama ini kesannya bahwa tempat wisata penuh dengan dunia glamour dan hura-hura, sebenarnya tidak juga, justru wisata bisa menjadi tempat pendidikan dan pencerahan bagi pengunjung,” jelasnya.


Salah satunya, kata Diah setiap obyek wisata dihadirkan polisi syari’at yang penuh dengan keramahan, sopan santun dan selalu mengarahkan kepada pengunjung jika kesulitan mencari tempat ibadah selalu dipandu dengan penuh kekeluargaan dan sebagainya.


“Jika peran seperti itu bisa diterapkan, saya yakin wisata di Aceh akan menjadi salah satu destinasi di Indonesia yang memiliki ciri khusus yang bersifat Islami dan menjadi daya tarik pengunjung, dan satu hal seluruh akses ketempat obyek wisata harus dibenah, apakah itu akses jalan, marka jalan maupun lokasi menginap bagi pengunjung terutama bagi pengunjung yang datang dari luar Aceh dan kenyamanan pengunjung juga harus menjadi prioritas utama,” urainya. (ogit)

Baca: Penemuan Candi Kuno Sawang Kabupaten Aceh Utara]

Sumber: www.acehutara.go.id

Artikel Terkait