7 Sep 2014

Ketika Demam Gaya Hidup Mewabah Masyarakat Desa


Sebuah kenicayaan modernitas telah terjadi. Kebutuhan akan lifestyle alias gaya hidup tak lagi menjadi barang sekunder yang harus dikesampingkan lebih dahulu dalam daftar kebutuhan hidup manusia zaman moderen. 

Dewasa ini, keinginan untuk selalu tanpil prima, berbeda dan lebih bergensi membuat pergeseran budaya yang sangat luar biasa terasa, bahkan nyaris tak terkendali. Sehingga muncul pameo dikalangan masyarakat kita, "bahwa yang mahal sekarang ini bukan hanya biaya hidup, tapi gaya hidup". 

Itu fakta dan fenomena ini tampak jelas terlihat dari prilaku kehidupan masyarakat perkotaan yang cenderung metropolitan. Dimana, kehidupan masyarakat kota kian terusik manakala gengsinya tak dapat terpenuhi.?

Atas pergeseran budaya hidup tersebut, sehingga produk-produk lifestyle kian diburu oleh masyarakat perkotaan. Sehingga kehidupan orang kota bukan hanya berdasarkan kepada tuntutan kebutuhan hidup, tetapi lebih pada gaya hidup. 

Tingginya gaya hidup dan perilaku konsumtif kebanyakan masyarakat kota membuat perekonomian kota pun kian berdenyut dan bangkit. Bak gayung bersambut, toko-tokoh penjual lifestyle pun harus berlomba-lomba untuk menyediakan produk-produk mewah untuk memenuhi hajatan masyarakat zaman sekarang yang kian konsumtif dalam memenuhi gensi hidup tersebut. 

Demam konsumtif yang banyak mengindap masyarakat perkotaan, sekarang sudah mewabah hingga kepelosok desa. Bahkan, ada sebagian warga desa yang begitu cepat merespon perubahan budaya tersebut, terutama dikalangan remaja.

Sehingga sekarang kita sangat sulit membedakan gaya hidup remaja pedesaan dengan remaja perkotaan. Jika dulu remaja perempuan maupun laki-laki di desa dapat dilihat dari cara berpakaian, berbicara, tata krama serta bergaul dengan lawan jenis. Misalnya, remaja putri desa selalu memakai kain atau rok, saat ini sudah banyak yang memakai celana jeans.

Sedangkan pada remaja pria desa dahulu menggunakan celana panjang, sarung, berkopiah, sopan santun dan menjaga pergaulan dengan lawan jenis, namun sekarang terjadi perubahan yang luar biasa bahkan telah jauh dari tatakerama orang ketimuran.

Sehingga produk-produk elektronik dan fesyen menempati rangking teratas yang paling terfavorit atau digemari oleh masyarakat zaman sekarang. 

Adapaun produk-produk lifestyle yang gencar diburu oleh msyarakat zaman sekarang adalah barang-barang elektronik seperti hand phone, laptop dan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga serta fesyen (pakaian). 

Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama Januari sampai Maret 2013, nilai ekspor pakaian jadi Indonesia non-rajutan adalah USD 1,01 miliar mengutip Info PDN. Angka itu tumbuh sekitar 3,1% dibandingkan realisasi ekspor di periode sama tahun lalu, yaitu USD 986,4 juta.

Atas berkembangnya industri fesyen ini, membuat produk domestik bruto terus meningkat. Jika pada 2010 produk fesyen menyumbang Rp 128 triliun, sementara pada tahun 2012 meningkat sampai Rp 164 triliun. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, fesyen menyumbang 3,8 juta tenaga kerja pada tahun lalu.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, industri gadget telah mengalami banyak kemajuan. Produk-produk smarthphone terus menawarkan telepon yang tak hanya berfungsi untuk komunikasi tetapi juga bisa digunakan untuk aktivitas lain yang dibutuhkan oleh masyarakat di era teknologi seperti fotografi, menonton film, main game, mengetik surat sampai mengirim secara elekronik. 

Potensi ini sejatinya dimanfaatkan oleh anak-anak negeri. Indonesia harus mampu mencipta produk-produk sendiri, tanpa harus terus bergantungan pada produk luar negeri. Perjuangan ini tentunya tidak semudah membalik telapak tangan, selain harus ada komitmen yang serius dari pemerintah juga harus ada kreativitas dan keuletan dari anak bangsa itu sendiri.

Tidak bermaksud memuji bangsa Jepang. "Apalagi kalau kita mengenang dosa mereka atas kekejaman tentara Jepang waktu menjajah Nusantara". 

Menurut beberapa sumber, awal kedatangan Jepang mereka bersikap baik kepada bangsa Indonesia. Sehingga bisa mengusir Belanda yang sudah 14 keturunan menguasai kepulauan nusantara. Tetapi menurut cerita kakek-kakek kita, ternyata "penjajahan Jepang lebih kejam dari penjajahan Belanda". 

Kekejaman bangsa mereka atas rakyat bangsa kita, kemudian Allah balas walaupun tidak lewat tangan kita sendiri. Allah SWT memberikan pelajaran kepada bangsa Jepang lewat tangan bangsa yang lain, yaitu lewat dijatuhkannya bom atom di Horishima dan Nagasaki. Dua kota itu lumpuh total dan Jepang pun harus menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Namun tidak ada yang salah kalau kita belajar dari patriotisme bangsa Jepang dalam membangun ekonominya. Silahkan baca, "tentang cara Negeri Sakura Mencintai Produknya Sendiri". 

Artikel Terkait