4 Okt 2014

Idul Qurban, Hari Kebebasan dari Keterikatan Dunia

 AFP Images
Dalam ulasan singkat ini akan dibahas mengenai filsafat berkurban di Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah. Idul Qurban adalah hari penyerahan dan penghambaan kepada Allah Swt. Hari besar tersebut merupakan perayaan kedekatan kepada Tuhan Semesta Alam yang memiliki arti pemutusan segala bentuk keterikatan dan ketergantungan kepada dunia. Untuk itu, kami mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H.

Tak diragukan lagi, terdapat banyak rahasia dan poin-poin penting dan informatif yang terkandung dalam hukum-hukum Islam. Ibadah haji juga meliputi serangkaian program, ritual dan manasik khusus, di mana setiap dari mereka memiliki rahasia dan misteri masing-masing.

Salah satu amalan haji adalah berkurban di Hari Raya Idul Adha. Terdapat banyak pandangan mengenai filsafat penyembelihan hewan kurban. Mungkin dapat dikatakan bahwa salah satu tujuan berkurban adalah sebagai cara untuk menguji manusia atas harta dan kekayaannya di jalan Tuhan.  

Dalam tradisi berkurban, manusia akan mempersembahkan sebuah hadiah berharga kepada sang kekasih dengan penuh keridhaan. Ia akan memutus leher ketamakan dalam dirinya dan mengorbankan kekayaannya untuk dikorbankan. Ketahuilah bahwa daging dan darah kurban tidak akan pernah sampai kepada Allah Swt, namun yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dan kepatuhan orang yang berkurban, dan ketakwaan tersebut yang menyebabkan ia tumbuh dan menjadi sempurna.

Dalam Surat Al-Hajj ayat 37, Allah Swt berfirman, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan daripada kalianlah yang dapat mencapai keridhaan-Nya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Terkait betapa bernilai dan agungnya berkurban, Imam Ali as berkata, “Jika masyarakat mengetahui apa pahala berkurban di Hari Raya (Idul Adha) maka mereka akan berhutang dan melakukan kurban, sebab dengan tetesan pertama darah kurban, pelaku kurban akan diampuni dosanya.”

Hari Raya Qurban datang setelah perolehan makrifat di Arafah, penyadaran di Masy'aril Haram serta munculnya impian dan harapan di tanah Mina. Idul Adha adalah hari pembebasan dari segala jenis keterikatan dan ketergantungan kepada dunia, dan bebas dari segala hal selain Tuhan. Pada hari ini, semua yang berhubungan dengan dunia dikorbankan supaya menjadi ringan untuk meniti jalan kedekatan kepada Allah Swt. Dengan demikian, setiap orang harus mengoreksi dirinya tentang apa yang menyebabkannya bergantung pada dunia dan menjauhkan diri dari Tuhan.

Terdapat banyak rintangan, bahaya dan ujian berat dalam menelusuri jalan penghambaan kepada Tuhan. Nabi Ibrahim as yang telah bertahun-tahun menanti kelahiran Ismail as mendapatkan ujian besar dari Allah Swt untuk mengorbankan putranya tersebut. Doa Nabi Ibrahim as untuk memiliki Ismail tertera dalam Surat As-Saffat ayat 100. Allah Swt berfirman, "Ya Rabbku! Anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. "

Setelah menunggu selama bertahun-tahun, akhirnya Allah Swt menganugerahkan kepada Ibrahim as seorang putra bernama Ismail as. Namun ketika ia telah tumbuh dewasa dan mencapai usia baligh, Allah Swt memerintahkan Ibrahim as untuk menyembelih Ismail as. Perintah tersebut diperoleh beliau dari mimpi-mimpinya yang berulang kali.

Mengingat mimpi para nabi adalah benar, maka Nabi Ibrahim as yakin harus melaksanakan perintah tersebut. Beliau mengutarakan mimpi itu kepada putranya. Ismail as yang disifati dalam al-Quran sebagai seorang penyabar, mengamini apa yang diperintahkan oleh Allah Swt kepada ayahnya, Ibrahim as.

Peristiwa tersebut dijelaskan dalam al-Quran Surat As-Saffat ayat 102. Allah Swt berfirman, "Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!, maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Meski setan telah mengerahkan segenap upaya dan tipu dayanya untuk menghalangi Nabi Ibrahim as mengerjakan perintah Allah Swt itu, namun setan tetap tidak mampu mencegahnya. Nabi Ibrahim as dan Ismail as memutuskan untuk melaksanakan tugas berat tersebut dan bergegas menuju tempat penyembelihan. Nabi Ibrahim as kemudian menggesekkan pisau tajam ke leher Ismail as. Namun, setiap kali pisau itu digesekkan ke leher Ismail as, dengan izin Allah Swt pisau itu tidak mampu melukai lehernya. Nabi Ibrahim sangat terkejut dengan peristiwa itu.

Akhirnya Nabi Ibrahim as lolos atas ujian berat untuk mencapai keridhaan Allah Swt. Berkat upayanya untuk bertekad memenuhi perintah Allah Swt dan tidak menuruti bisikan-bisikan setan, beliau berhasil melalui ujian tersebut dengan sukses dan mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan. Allah Swt memberikan pahala besar kepada Nabi Ibrahim as atas kesuksesan itu. Dalam Surat As-Saffat ayat 109-110, Allah Swt memuji Ibrahim as dan berfirman, "Kesejahteraan (dari Kami) dilimpahkan atas Ibrahim." Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. "

Dengan mengingat dan mengenang pengorbanan dua jawara tauhid -Nabi Ibhrahim dan Ismail as- Hari Raya Qurban menjadi simbol ketundukan kepada perintah-perintah Allah Swt yang dipertunjukkan kepada para pencari kebenaran. Hari raya tersebut mengajarkan kepada kita bahwa orang yang beriman tidak hanya cukup membenarkan Keesaan Tuhan dan risalah Nabi-Nya saja, tetapi juga sepenuhnya patuh dan tunduk kepada-Nya.

Kalimat indah "Labbaik Allahumma Labbaik" yang dilantunkan oleh para jamaah haji, pada dasarnya adalah pernyataan ketundukan, kepasrahan, penyerahan dan penghambaan kepada Tuhan. Hal tersebut selaras dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Dalam Surat al-An`am ayat 162, Allah Swt berfirman, "Katakanlah, "Sesungguhnya salatku, ibadahku (amal ibadahku, yaitu ibadah haji dan lain-lainnya), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam."

Berkurban memiliki hukum-hukum dan syarat-syarat tertentu. Orang yang melakukan kurban harus Muslim dan memulainya dengan nama Allah Swt. Hewan kurban harus dihadapkan ke kiblat. Semua tata cara tersebut memiliki makna dan simbol, namun hanya mempunyai satu tujuan, yaitu penghambaan kepada Tuhan.

Menghadapkan hewan kurban ke kiblat mengajarkan kepada kita bahwa sebelum bergerak di jalan kesempurnaan untuk menuju kedekatan dan keridhaan Allah Swt, kita harus menemukan kiblat terlebih dahulu, yaitu arah kita untuk menghadap-Nya. Artinya kita harus bergerak hanya menuju ke arah Tuhan dan mengabaikan arah lainnya. Kita melepaskan diri dari pusat kekuasaan, ketenaran dan hawa nafsu lainnya.

Sementara orang yang melakukan kurban harus Muslim memiliki arti bahwa Muslim adalah orang yang telah sampai pada tahap penyerahan dan ketundukan. Kita harus seperti Nabi Ibrahim as, sehingga kita mampu menyembelih Ismail as sebagai simbol harta dan kekayaan yang paling kita cintai dan paling berharga dalam hidup kita.

Jika kita belum sampai pada tahap tunduk dan patuh, kita tidak akan memperoleh manfaat dari berkurban. Sebab kurban tersebut seperti hadiah dan persembahan yang diberikan oleh Habil dan Qabil kepada Allah Swt. Persembahan Habil diterima karena ia sepenuhnya tunduk kepada perintah-Nya dan memilih barang yang paling berharga untuk dikurbankan, sementara hadiah Qabil ditolak.

Idul Qurban merupakan peringatan atas epik pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail as dan hari untuk mengenang peristiwa besar itu. Semua manusia di setiap masa harus bergabung di kelas Ibrahim dan Ismail as sebagai pembimbing besar tauhid. Mereka harus mengambil pelajaran dari pengorbanan kedua manusia agung tersebut dalam meniti jalan keridhaan Allah Swt. Sebab, melepaskan ketergantungan kepada dunia dan jihad melawan hawa nafsu lebih sulit dibandingkan dengan menghadapi musuh nyata.

Sebagian mufassir menafsirkan arti “membunuh” dalam Surat al-Baqarah Ayat 54 adalah membunuh hawa nafsu. Dengan demikian, berkurban dari pandangan irfan adalah rahasia meninggalkan hawa nafsu dan bergerak menuju keridhaan Allah Swt.  

Amalan lain di Hari Raya Idul Adha adalah memberikan makan kepada orang lain. Amalan tersebut juga dalam rangka membenahi diri. Ketika seorang peziarah Baitullah memberikan hadiah kepada sahabatnya dengan penuh ikhlas dan cinta, maka dia sama halnya dengan mengekang hawa nafsunya. Ia akan terbebas dari kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu yang merugikan dirinya dan orang lain. 

Sumber: IRIB Indonesia

Artikel Terkait