21 Oktober 2014

Tidak Mendapat Keadilan, 10 Desa akan Bergabung dengan Malaysia

GampongRT - Kesenjangan pembangunan dipusat pemerintahan dan diperbatasan memang sangat luar biasa. Sepuluh desa di Kecamatan Long Apari, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim), mengancam akan bergabung dengan negara Malaysia. Pasalnya, sepuluh desa yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia, itu merasa dikucilkan oleh Pemerintah Provinsi Kaltim maupun pemerintah pusat. Seperti diberitakan kompas.com

Dikatakan Batoq Laga, Kepala Desa Long Penaneh I, Long Apari, masyarakat Long Apari tidak pernah mendapat keadilan dari Pemerintah Indonesia sehingga dalam waktu dekat pihaknya akan memasang bendera Malaysia di Kecamatan Long Apari.

“Kami akan memasang bendera Malaysia jika kami terus dikucilkan oleh Pemerintah Indonesia. Kami tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah Indonesia. Jangankan insfratruktur, (untuk) komunikasi saja kami tidak bisa. Kami punya HP, tapi gunanya hanya untuk pamer dan mendengar lagu,” kata dia, (17/10/2014). 

Batoq menjelaskan, perekonomian di Long Apari tidak berputar. Batoq juga mengeluhkan masalah bahan pangan di Long Apari. Menurut dia, satu karung beras seberat 25 kg dibanderol seharga Rp 600.000. “Beras sudah Rp 600.000, bensin sudah Rp 25.000. Semua serba mahal. Semua karena infrastruktur yang menghambat perekonomian kami,” ujarnya. Karena keterbatasan itu, semua kepala desa di Kecamatan Long Apari berulang kali meminta keadilan dari pemerintah, tidak hanya Pemerintah Provinsi Kaltim, tetapi juga Pemerintah Indonesia.

“Kami sudah ke mana-mana, mulai dari pembicaraan dengan Pemprov Kaltim hingga ke pemerintah pusat. Tapi, hasilnya nihil. Kami masih saja dikucilkan,” ketusnya. Karena itu, kata dia, jika Pemerintah Indonesia tidak memberi keadilan dan kesejahteraan, dipastikan 10 desa di Kecamatan Long Apari akan memasang bendera Malaysia.


Tower telekomunikasi di Desa Tiong Ohang, Long Apari, sejak tahun 2012 hingga sekarang tidak berfungsi.

“Terutama di salah satu tower yang dibangun pemerintah, ada tower, tapi tidak ada fungsinya. Tower telekomunikasi dibangun sejak 2012. Tapi, hingga sekarang, HP kami tidak bisa dipakai menelepon. Jika kami bergabung dengan Malaysia, pasti bukan hanya telekomunikasi yang akan dipasang, melainkan juga infrastruktur pun akan lancar, selancar perekonomian Malaysia,” pungkasnya.

Catatan detikTravel Community. Kami telah mengumpulkan tenaga setelah melalui perjalanan sungai selama kurang lebih 8 jam dalam speed boat untuk berkeliling desa Tiong Bu'u, kecamatan Long Apari. Kebanyakan dari mereka adalah keturunan suku dayak Panihing atau sering disebut juga dayak Ouheng karna berasal dari sungai Kapuas yang sering disebut sungai Uheng. 

Konon katanya awal mula mereka berpindah tempat ke hulu sungai Mahakam ini adalah karna desakan dan juga sering disakiti oleh suku-suku dayak lain yang tinggal di Kapuas. Mereka berpindah tempat dengan mengumpat-ngumpat di hutan hingga akhirnya tiba di hulu akhir sungai Mahakam, Long Apari. 

SD satu-satunya yang tedapat di Desa Tiong Bu'u
Dulunya mereka terkenal sebagai dayak primitif yang ketika menemukan suku lain dalam wilayahnya maka mereka akan saling membunuh, namun lama kelamaan pemikiran mereka berkembang dan semakin maju. Desa ini sudah terbilang modern tapi tetap tidak meninggalkan budaya lamanya. Sebagian dari mereka berkerja di ladang brladang, mengolah kayu Gaharu, dan menambang emas di sungai pada musim kemarau. 

Sistem pertanian di sini berbeda dengan daerah lainnya. Sebelum mereka memulai masa penanaman, mereka akan mengadakan sebuah ritual khusus penyambutan penanaman padi yang diadakan sekitar bulan Agustus hingga September selama sebulan penuh. 

Setelah itu dilakukan penebasan pohon-pohon yang ada di ladang yang ingin dipakai, kemudian dilakukan pembakaran, konon katanya dengan membakar lahan sebelum penanaman akan membuat tanah semakin gembur, kemudian lahan tersebut dibersihkan kembali sampai akhirnya mereka dapat menanam padi atau tumbuhan lainnya dan biasanya mereka akan melakukan ritual panen juga pada bulan Febuari.
 
Untuk sekedar catatan, sawah-sawah mereka tidak diberikan perairan, hanya ketika hujan turun lah mereka menjadi basah. Dulu beras-beras mereka sering dikirim ke luar daerah di Kalimantan Timur, tapi sejak mem-boom-ing nya penambangan emas, senagian warga beralih profesi, walau ada juga sebagian yang tetap bekerja di ladang. Hingga akhirnya mereka membeli beras dari wilayah lain. Sekitar tahun 2007-2008, harga beras disini melonjak drastis, dari harga Rp 200.000/karung menjadi Rp 500.000/karung. 

Warga disini senang sekali berolah raga. Banyak lapangan-lapangan olah raga yang sengaja dibuat, kebanyakan adalah voli dan badminton.Mereka berolah raga saat sore hari, ketika mereka pulang dari seharian beraktivitas. Setelah pukul 6 sore, desa ini sudah terlihat sepi, tidak banyak orang yang keluar rumah.  Listrik hanya mengandalkan Jenset sentral sumbangan peerintah. Hanya dari pukul 6 sore hingga pukul 10 malam, selebihnya desa ini akan terasa sepi dan gelap sekali seperti hutan. 

Ada beberapa rumah yang memanfaatkan tenaga aki untuk menyalakan lampu rumah, sebagian juga ada yang memiliki jenset sendiri. Selain itu, disini benar-benar tidak terdapat sinyal, karena memang disini tidak ada tower provider satupun. Jadi ketika listrik mati, lampu mati, handphone pun tidak lagi bisa menjadi pemecah kesepian seperti biasanya. Untuk berkomunikasi dengan sanak keluarga atau kerabat yang tinggal di luar desa, mereka sering menggunakan jasa wartel (warung telepon).
 
Sedangkan untuk biaya telepon, akan dikenai Rp 250- Rp750/9 detik sesuai daerah yang dituju. Untuk menelepon ke Jakarta selama sebelas menit seperti yan saya lakukan sore kemarin, dikenai biaya sekitar Rp 30.000. mahal bukan..?

Artikel Terkait

Media Informasi dan Edukasi Berdesa


EmoticonEmoticon