15 November 2014

Menteri Desa: 60 Persen Lebih Masyarakat Miskin Ada di Desa

GampongRT - Selama ini secara nasional pemerintah telah membangun infrastruktur dalam skala yang besar, tetapi seringkali pembangunan dengan biaya yang sangat besar tersebut tidak menyentuh pada infrastruktur dasar yang diperlukan oleh masyarakat di desa-desa.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar menyebutkan, kedepan untuk kesejahteraan desa, pembangunan akan berorientasi pada rakyat, people centered development. Sebagaimana diketahui bersama bahwa 60 persen lebih rakyat Indonesia miskin berada di desa.

Masih banyak desa-desa di Indonesia berkategori tertinggal yang perlu dibangun agar lebih berkembang dan mandiri. Membangun desa, mengentaskan kemiskinan dan meingkatkan kesejahteraan rakyat itu hukumnya wajib, ujar Marwan Jafar kepada media pada Rapat Kerja Nasional (P2MKT) Tahun 2014, di Hotel Mercure, Ancol yang dihadiri perwakilan dari Provinsi, Kabupaten dan Kota dari seluruh Indonesia.

Pada kesempatan yang lain, Menteri Desa mengungkapkan pada tahun 2015 setiap kabupaten/kota di tanah air bakal dipilih tujuh desa untuk dikembangkan menjadi desa mandiri sebagai upaya pemerintah membangun Indonesia dari pinggiran atau desa.

Syarat untuk menjadi desa mandiri antara lain; sudah tergolong sebagai desa sehat, desa makmur, desa demokratis, dan desa wisata serta beberapa persyaratan lainnya. Program ini merupakan salah satu dari sembilan kerja prioritas yang akan dilaksanakan pada tahun 2015.
Kesembilan program prioritas Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, diantaranya; 
  • Membuat desa mandiri di 3500 desa, 
  • Penguatan kapasitas dan kelembagaan dan aparatur desa di 3500 desa, 
  • Pembentukan dan pengembangan Badan Usaha Milik Desa di 5000 desa, 
  • Revitalisasi Pasar Desa sebanyak 5000 pasar tradisional desa, 
  • Membangun infrastruktur jalan di 3500 desa mandiri, 
  • Memfasilitasi penyaluran dana desa Rp1,4 miliar secara bertahap untuk masing-masing desa di Indonesia. 
  • Dll
Menteri Desa menyebutkan bahwa kedepan untuk kesejahteraan desa, pembangunan akan berorientasi pada rakyat, people centered development.

Apa itu People Centered Development?

People centered development yaitu pembangunan yang berpusat pada rakyat. Konsep ini sebenarnya sudah lama ada, namun penerapannya saja yang masih kurang. Di Indonesia, konsep people centered development dikembangkan sebagai antitesa dari kegagalan pembangunan yang memberatkan pada pertumbuhan ekonomi.

Berikut ringkasan pandangan Musni Umar, Ph.D tentang konsep People Centered Development dan Implementasinya di Indonesia, dan selengkapnya dapat dibaca dalam laman musniumar.wordpress.com.

Pembangunan bangsa Indonesia sebaiknya dirubah strategi dan taktiknya. Bangsa Indonesia yang sebagian masih miskin, kurang pendidikan dan mengalami keterbelakangan diberbagai bidang kehidupan, membangunnya sudah saatnya bertumpu pada konsep “people centered development,”dengan mulai membangun jiwa seluruh bangsa Indonesia dan orang-orang miskin yang dapat dikatakan jiwanya “mati,” supaya menjadi jiwa yang hidup, bersemangat, berpengharapan (optimis), dan mempunyai keyakinan kuat bahwa bangsa Indonesia dengan kerja keras dan bersatu, bisa bangkit dan maju di abad 21 ini. 

Ada ungkapan “dimana ada kemauan, disitu ada jalan (if there is a will there is a way), siapa rajin dan bersungguh-sungguh akan meraih kesuksesan (man jadda wajada).

Bangsa Indonesia yang tidak memiliki kepakaran (keahlian), mesti diberi pendidikan ketrampilan seperti tukang cukur, tukang kayu, tukang batu, tukang las, montir, srvice AC dan lain-lain. Selain itu mendialogkan program yang diperlukan, yang bisa dilakukan dan dapat merubah nasib mereka menjadi lebih baik.

Untuk mengaplikasikan budaya gotong-royong dan memberi pekerjaan kepada masyarakat yang sulit mendapat pekerjaan, hendaknya diperbanyak proyek-proyek padat karya yang memungkinkan warga masyarakat berpartisipasi membangun bangsa Indonesia khsusunya kampung halamannya.

Disamping itu, lingkaran kemiskinan bangsa Indonesia, yang selalu diwariskan orang tua kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya, sudah saatnya diputus dengan memberi beasiswa yang cukup kepada anak-anak miskin yang cerdas untuk mengikuti pendidikan berasrama diluar kampung mereka, supaya keluar dari kesulitan yang dialami, mendapat kehidupan baru, ilmu, peradaban, dan sahabat baru.

Artikel Terkait