31 Des 2015

Huaxi Village “Desa Utopis Tiongkok”

Penduduk Huaxi Village yang sedang bekerja, tahun 1970/Foto:blog.livedoor.jp
Tiga puluh tahun lalu, warga Desa Huaxi, di timur Tiongkok, seperti Sun Hai Yan, hanya bisa makan daging paling bagus seminggu sekali. Sekarang Sun terbiasa makan di restoran mewah di desanya. Punya rumah dengan pilar ala Yunani dan tangga ala aristokrat Inggris-Victorian.

Dulu rakyat Huaxi umumnya masih tinggal di rumah-rumah petak kumuh dan mimpinya sekadar berjuang mengumpulkan uang untuk membeli sepeda.

Kini, atau sejak 20 tahun terakhir, Desa Huaxi, 160 kilometer di utara Kota Shanghai di Provinsi Jiangsu, berpenghuni sekitar 2.000 keluarga menjelma menjadi desa makmur. Warganya berseliweran dengan mobil-mobil built-up.

Warga desa punya rumah bagus rata-rata seluas 400 meter, saham komunal, punya minimal 1 mobil bagus, jaminan sosial yang kuat, hotel, agrobisnis, logistik, dan pabrik-pabrik seperti baja dan tekstil. Pendek kata, tak ada orang susah dan miskin di Huaxi.

Fasilitas publik dan kesejahteraan seperti pendidikan, kesehatan, kebutuhan pokok, disediakan begitu mengesankan oleh semacam pemerintahan yang dijalankan Komite Desa.

Sepuluh tahun terakhir Desa Huaxi menjadi semacam trofi dan megafon Republik Tiongkok untuk memberi tahu dunia beginilah racikan mereka tentang komunisme dan kapitalisme. Sebuah desa utopis yang bisa dilihat dan dikunjungi.

Pemilik Microsoft, Bill Gates, menyebut desa itu sejenis “bentuk baru dari kapitalisme”. Petinggi Partai Komunis Cina menyebutnya bentuk terbaik sosialisme.

Sementara Wu Renbao, arsitek Desa Huaxi, figur semacam Lee Kwan Yew untuk Huaxi, yang juga menjabat Sekretaris Partai Komunis Cina tahun 1961, bersama warga desa punya slogan sendiri “langit kami partai komunis, tanah kami sosialisme”.

Sanjungan dan kekaguman global kepada Desa Huaxi sudah tersampaikan sejak 8 tahun terakhir. Liputan media dunia umumnya menafsirkan desa itu sebagai racikan sosialisme dengan karakteristik Tiongkok.

Dunia terpana. Sebab, selain kesejahteraan sosial yang nyata, bagaimana mungkin sebuah desa yang awalnya dihuni 1.600 keluarga, bisa punya menara begitu tinggi, salah satu tertinggi di dunia, pabrik-pabrik, hotel mewah, tempat wisata kelas dunia, monumen-monumen desa yang artistik dan mahal, dan produksi kotor domestik setahun senilai Rp 131 triliun.

Menara pencakar langit itu dibuat sebagai mercu suar Tiongkok. Negeri ini selalu membuat menara untuk setiap kemajuan. Argumen mereka, setiap ada peningkatan ekonomi, dibutuhkan ruang dan bangunan. Dan, tentu saja, itu adalah simbol promosi kemajuan politik komunisme.

Bangunan pencakar langit itu bernama Langit Tinggi Sekali. Isinya terdiri dari hotel 826 kamar, ruangan pertemuan, jamuan makan mewah untuk 5 ribu orang, dan failitas megah lainnya. Warga Tiongkok bangga karena menara itu lebih tinggi dari banyak menara tinggi di dunia seperti Shard London Bridge.

Wu Renbo, arsitek Desa Huaxi, yang wafat Maret 2013, disebut-sebut menerapkan resep kombinasi antara kontrol politik yang menghasilkan stabilitas dan orientasi ekonomi berbasis komunal yang cepat kaya.

“Kita harus punya uang dan kaya. Tanpa itu kita bukan siapa-siapa,” kata Wu kepada warga.

Meski desa itu makmur dan warganya lebih kaya dari seluruh desa lain di Tiongkok, warga Huaxi hanya punya sedikit waktu dan kebebasan, terutama terhadap uang mereka.

Bar dan restoran tutup sebelum pukul 10 malam agar pekerja tidak tidur larut malam. Warga desa bekerja 7 hari penuh dalam seminggu. Liburan juga sangat jarang.

Warga Huaxi hanya memegang sedikit uang tunai dari aset saham mereka. Sekitar 80 persen dari bonus tahunan dan 95 persen deviden warga harus diinvestasikan kembali kepada komunal. Jika meninggalkan desa, mereka kehilangan saham komunal, fasilitas rumah, dan tunjangan kesejahteraan lainnya.

Saham akan tetap dimiliki selama warga tinggal di Huaxi dan selama bisnis dan pabrik-pabrik tetap berjalan. Pekerja pabrik-pabrik rata-rata warga Huaxi dan daerah-daerah sekitar yang terserap oleh kemajuan ekonomi Huaxi.

Perjudian dan narkoba dilarang sangat keras di desa. Bahkan tak ada yang disebut kehidupan malam seperti klub atau karaoke. Jika ada yang coba-coba, properti mereka akan disita.

Jalan-jalan Desa Huaxi lengang karena warganya sibuk bekerja. Tapi kerja keras itu jelas sekali terbayar dengan sistem hidup yang makmur.

Media-media domestik suka bersikap mendua melihat kemajuan desa ini. Huaxi mengalami dua kondisi “surgawi” dan “diktatorisme”. Warga punya kecukupan hidup yang tinggi, namun menjadi masyarakat industrialis yang menjemukan.

Kritik yang terdengar makin tidak sayup-sayup pula adalah model kekuasaan patron-klien yang dikembangkan keluarga Wu. Wu dituding membentengi dirinya dengan model ekonomi klientelistik di mana jerih payah dibayar dari kedekatan dengan lingkungan keluarga.

Namun, pada dasarnya keadilan dalam “persamaan dalam hasil bersama” masih sungguh sangat nyata dan tak terbantahkan dirasakan warga Desa Huaxi. Yang dibutuhkan warga desa mungkin sedikit demokrasi agar kepemimpinan dan ruang sosial tidak digenggam hanya oleh lingkaran keluarga Wu.

“Sosialisme berarti 98 dari 100 orang hidup bahagia,” kata Wu Renbao kepada media di Tiongkok.

Chih-Jou Chen, peneliti di Taiwan Academia Sinica, menilai langka Wu sebagai alternatif dari kerasnya komunisme ala Mao, namun tak juga ingin kehilangan nilai-nilai komunal. “Wu ingin menyelamatkan model sosialis dan beberapa nilai komunis,” tulisnya.

Profesor Wenxian Zhang, dari Rollins College Tiongkok, menyebut Wu, pensiunan pengurus partai komunis itu, sebagai pegiat ekonomi pasar sosialis dengan karakter ala Tiongkok yang agak bergaya feodal dan partiarkal. Sejak Wu wafat, kepemimpinan partai di Huaxi diserahkan pada anaknya, Wu Xie’en.

Pragmatisme terlihat makin menonjol di Huaxi daripada ideologi sebagai prinsip. Wu pernah berkata, “Mau isme lama atau isme baru, tujuan kita membuat semua orang menjadi kaya.”

Kiprah Wu di partai politik sejak awal memang lebih dekat dengan ide-ide keterbukaan yang sosialistik daripada komunistik.

Wu pernah ditangkap oleh “pasukan merah” di era Revolusi Kebudayaan yang digulirkan Mao Zedong di tahun 1970-an karena membuka pabrik. Dia sempat dijuluki “pelaju kapitalis”. Penahanan yang sama juga menimpa aktivis partai lain seperti Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping yang mengoreksi Revolusi Kebudayaan.

Tafsir ideologi Wu terhadap komunisme dan Revolusi Kebudayaan Mao jelas sekali terejawantah dalam sistem hidup Desa Huaxi yang dibangun dengan nilai-nilai komunalistik dan kerja keras.

Miao Xian, ibu muda yang bekerja di industri tekstil di Huaxi, mengaku tak keberatan bekerja 7 hari penuh, selama nilai-nilai komunal tetap menjadi prinsip. Dia ingin warga desa tetap menjaga kebersamaan itu. “Jika bermaksud meninggalkan desa ini, akan kehilangan hampir semuanya. Rumah, mobil, uang, subsidi, dan tunjangan lain,” kata Miao.

Turis yang datang ke desa itu sekitar 2 juta per tahun. Jumlah yang cukup fantastis untuk ukuran desa yang luasnya tak lebih besar dari 1.000 meter persegi. Mimpi-mimpi sosialistik Tiongkok terejawantah di desa ini, sebagian besarnya sudah menjadi kenyataan. Sebuah desa industrialis maju yang melesat tapi pula bisa kehabisan oksigen kebebasan dan spiritualisme akibat tekanan materialisme. [*]

Oleh: Hertasning Ichlas
Sumber: Feature Majalah The Geo Times Edisi 37 2015 - Source

Artikel Terkait