5 Januari 2016

Inspirasi: Cara Kades Mulkan Membangun Desa

Era pembaharuan desa sudah dimulai. Melalui UU Desa yang baru, desa memiliki kewenangan mengurus diri sendiri berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa. (Baca: Mental Baru Memperlakukan Desa)

Ketika banyak orang meragukan dan khawatir atas kemampuan kades mengelola dana desa. Tapi tidak dengan kades yang satu ini, namanya Pak Mulkan. 

Yok kita simak, cara Kades Mulkam dalam mentata dan mengelola desanya sehingga berturut-turut dinobatkan sebagai desa pengelolaan administrasi terbaik sekabupaten. Bagaimana pula kiat-kiat Pak Kades Mulkam dalam meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes). 

Semoga menginspirasikan kita semua. Berikut beritanya disadur dari koran desa.

Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng menjadi desa dengan pengelolaan administrasi terbaik se-Kabupaten Kobar dua tahun berturut-turut berdasarkan audit Inspektorat Pemkab Kobar yakni 2013-2014. Pengelolaan administrasi ini meliputi laporan keuangan, data administrasi kependudukan dan surat menyurat dengan pihak luar.

“Sejak saya dilantik 2013 lalu, saya melihat kok administrasi desa ini kacau. Jadi saya putuskan untuk merekrut beberapa orang sarjana yang kompeten di bidangnya untuk membantu tugas-tugas saya khususnya yang terkait administrasi,” Kepala Desa (Kades) Sungai Kapitan Mulkan.

Mulkan mengaku lebih percaya diri menghadapi kucuran dana miliaran sesuai dengan UU Desa. Bukan justru jadi sumber kekhawatiran. Sebab dengan dana itu, desa bisa membangun sesuai dengan aspirasi warganya. Tidak harus berharap dari Pemkab Kobar melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU).

“Jika banyak desa yang merasa gamang dan khawatir dengan kucuran dana desa yang nilainya miliaran tahun ini. Saya justru sebaliknya, dengan dana itu kan kita lebih leluasa membangun. Sungai Kapitan dapat dana desa lumayan besar sekitar Rp2,5 miliar,” katanya.

Saat ini, lanjut Mulkan, pihaknya juga telah membuat Peraturan Desa (Perdes) bersama Badan Permusyarawatan Desa (BPD) Sungai Kapitan untuk menarik dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan yang beroperasi di desanya. Perdes dibuat agar semua pungutan itu tidak dianggap liar.

“Di desa kami ini kan ada pelabuhan tambat kapal, SPBU, gudang-gudang milik perusahaan pupuk, kemudian depot pengisian Pertamina. Nah Pertamina ini yang sulit padahal mereka ini meng-cover lima kabupaten dan depotnya ada di desa kita ini,” jelasnya.

Mulkan menegaskan semua hal yang berhubungan dengan keuangan dilaporkan secara transparan ke masyarakat melalui website desa. Dalam laman website ini diunggah seluruh kegiatan pembangunan, baik pengeluaran dana, pemasukan PADes maupun hasil-hasil pembangunan secara fisik.

“Warga bisa langsung mengecek di website kita, jadi transparan semuanya, termasuk pungutan dana CSR itu, ada semua laporan keuangannya,” tegasnya.

Artikel Terkait