22 April 2015

Wejangan Tentang "Malaikat" di Cicilitan

Segalanya kini sudah berubah, tidak seindah seperti dulu lagi

Zaman sudah berubah, memang benar. Tanda berubahnya zaman itu diungkap dalam berbagai perasaan dan pikiran manusia seperti bait sebuah lagu, "segalanya kini sudah berubah, tidak seindah seperti dulu".

Zaman lampoe memang indah bagi yang indah, begitu juga masa depan. Yang pasti perubahan-perubahan akan terus terjadi dari waktu ke waktu. Dan pada disetiap perubahan itu akan tergambarkan sebuah kehidupan baru, baik atau buruh. 

Seperti zaman yang sedang kita lewati dan langkahi saat ini, manusia begitu akrab dengan bermacam teknologi dan informasi, karena kita pun tak berdaya untuk menolaknya. Islam tidak menolak perubahan atas zaman. Mungkin begitu juga dengan agama yang lain. 

Perubahan zaman diciptakan dan hadir untuk memberikan kemudahan bagi umat manusia, bukan kemuzaratan. Karena itu, teknologi harus dimanfaatkan dengan baik dan bernar. Bukan untuk menjadi "manusia pemuja teknologi". Karena, yang maha pantas dipuji dan dipuja hanya Allah, Tuhan pemilik alam semesta langit dan bumi. Maka teknologi harus di edukasi menjadi saluran kebaikan, penyebaran kemuslihatan dan kedamaian.

Pada suatu hari seorang kakek tua bertanya pada saya yang sedang nongkrong bersama tema disebuah warung kopi di Banda Aceh.

Assalamualaikum,,,wa'laikumsalam,,,jawab kami dengan serentak.

"Orang zaman sekarang, tua muda dan remaja, kalau ditanya akidah sering ling-lung. Sifat ya wajib tidak lagi dihafal, lalai di internet siang dan malam, "ceramah kakek tua, tanpa kami tau siapa namanya.

Sepuluh malaikat wajib diimani, tapi banyak yang lupa manusia kejar duniawi. Malaikat adalah ciptaan Allah yang ghaib, tidak mempunyai nafsu dan pikiran, tidak berbapak dan tidak pula beribu tak pula beranak. Malaikat mengerjakan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, bukan seperti manusia yang ingkar dan berdusta.

Satu-persatu kakek tua itu menyebutkan, pertama Jibril, dua Mikail, tiga Israfil, empat Izrail pencabut nyawa, lima Munkar, keenam Nakir, ketujuh Raqib kedelapan Atib yang mencatat amal manusia. Sembilan Malik, dan kesepuluh malaikat Ridwan penjaga pintu Surga.

Begitulan kakek tua itu mengingatkan kami tentang nama-nama malaikat yang wajib diimani. Yang dulu sewaktu mengaji dan sekolah, mungkin telah kami menghafalnya. 

Namun seiring bertambah usia dan kesibukan, lidah kami sulit mengucap kembali nama-nama malaikat itu. Terima kasih kek..ku tulis kembali wejanganmu ini di Cicilitan, sambil meneguk secangkir kopi di toko kelontong Seven Eleven.(*)

Image: google

Artikel Terkait